Redupnya Sakralitas Kiyai Dalam Kontestasi Politik 2018

Yuriadi Dosen Psikologi Sosial UTM

Oleh : Yuriadi (Dosen Psikologi Sosial UTM)

Konstruksi kiyai bagi masyarakat madura sangat sakral, karena Kiyai Madura merupakan figur terhormat dan istimewa di mata masyarakat pada umumnya. Sehingga suara kiyai dapat dijadikan rujukan bagi masyarakat setempat dalam menentukan segala sesuatu yang ada di masyarakat. Ketika semua persoalan cenderung merujuk kepada keputusan kiyai.

Bagaimana dengan kontestasi politik 2018? Ada sedikit pegergeseran pemahaman dari masyarakat tentang pilihan politik saat ini. Masyarakat tidak langsung pasrah kepada suara kiyai, tapi mereka masih melihat kemampuan dan rekam jejak figur selama ini. Maka dari itu ada kegamangan dari para kiyai dalam menghadapi demokrasi politik pada tahun 2018 berkenaan dengan pemilihan bupati (PILBUP) di Madura dan pemilihan Gubernur (PILGUB) di jawa timur. Keraguan atau kegamangan itu muncul karena persoalan politik hari ini tidak cukup hanya menggunakan kekuatan nama baik dan karisma semata seorang kiyai, tapi harus menghitung ulang dari sisi lain. Karena berbicara politik 2018 akan berbicara tentang praktek jual beli kepentingan dan kemampuan, bukan lagi dalam bentuk kepatuhan kepada figur semata.

Mengapa demikian? Karena masyarakat sudah sangat dewasa belajar dari kontestasi politik sebelumnya yang banyak melibatkan para kiyai dari permainan politik. Namun hasilnya para figur kiyai yang terpilih menjadi peminpin masih belum memiliki efek signifikan dalam kemajuan Madura pada khususnya dan Indonesia pada umumnya. Dari pijakan itu dapat mengambarkan bahwa fenomena politik selalu menyajikan banyak intrik, taktik dan kritik, sebab politik merupakan panggung abu-abu yang sangat sulit di prediksi dengan takaran ide yang sangat normatif dan rigid.

Perang ide untuk mengambil hati rakyat sudah di mulai dengan beranika ragam cara, ada yang memasang baliho besar di bahu jalan untuk memperkenalkan diri dan cara yang lain dengan safari politik ke lumbung-lumbung suara yang sekiranya dapat memilih mereka dengan transaksi kepentingan dan keuntungan. Bagi masyarakat, seorang figur yang datang ke daerah mereka dengan menggambarkan program-program mereka sudah biasa terjadi, namun program yang dijanjikan sangat susah terealisasi.

Masyarakat dalam garis besar sudah membaca indikasi itu bahwa para calon yang datang dan memasang baliho memiliki keinginan untuk menjadi orang nomor satu di daerah mereka. Sikap masyarakat yang dimotori oleh para generasi tentu akan menganalisa kelayakan figur dari sekian figur yang ada untuk menjadi peminpin ditempat mereka berada. Generasi muda yang cenderung terdidik sangat menyadari bahwa peminpin itu merupakan tiang kemajuan suatu daerah. Ketika tiang itu rapuh, kemajuan akan sulit untuk terealisasi.

Generasi muda yang sudah terdidik dengan pendidikan politik sedikit demi sedikit memberikan warna dalam penyadaran kepentingan politik yang tidak hanya bersifat sementara. Karena mereka memiliki tujuan besar untuk membawa madura kepada keadaan yang lebih beradab dan bermartabat dalam skala regional maupun nasional, mereka adalah kalangan intelektual.

Para intelektual yang memiliki kekuatan untuk merubah keadaan statis menjadi dinamis tidak hanya berasal dari kalangan kiyai, tapi semua kalangan memiliki kesempatan yang sama. Kemudian kalangan intelektual menjadi elite baru karena mengalami kenaikan status sosial dari perilaku mereka yang sudah mendapatkan pengakuan dari masyarakat sekitar yang memiliki kesadaran tentang pendidikan politik. Dalam hal ini, pendidikan menjadi titik balik perubahan struktur masyarakat yang menyebabkan redupnya sakralitas kiyai dalam panggung politik saat ini.(Red)

1 thought on “Redupnya Sakralitas Kiyai Dalam Kontestasi Politik 2018”

Leave a Comment