Identitas Bangkalan Dipudarkan

Oleh: Miftahul Achyar

OPINI, Lingkarjatim.com– Bengkah la’an atau Bang kulon, kedua sebutan itu akan menjadi pengantar pada tulisan ini. Dari mana sebenarnya asal kata Bangkalan? Bengkah la’an, diambil dari kisah meninggalnya Ke’lesap, sehingga Bangkalan mengadopsinya. Secara harfiah Bengkah la’an memiliki arti mati sudah atau telah mati. Kemudian, sebutan kedua yakni Bang kulon, istilah ini muncul dari era kerajaan tepatnya zaman Mataram, kisah lebih tua (sedikit) dari kisah ke’lesap (juga era Mataram), akan tetapi kedua kisahnya masih sama dalam kejayaan kesultanan Bangkalan atau era Cakraningrat. Bang kulon diambil dari bahasa jawa yang memiliki arti Gerbang Barat, pada waktu itu Bang Kulon meliputi Bangkalan dan Sampang. Pertanyaannya, dewasa ini Bangkalan tetap menjadi gerbang baratnya Madura atau Bangkalan telah mati?

Sekitar sebulan yang lalu, tepatnya menjelang akhir bulan Juli 2017, saya ikut mendampingi Kesultanan Bangkalan menghadiri undangan di acara syawalan Trah Ng DSDISK (Ngarso Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng) Sultan Hamengku Buwana (HB) II Ngayogyakarto Hadiningrat sekaligus diminta rawuh hadir di Keraton Kilen, kediaman HB X.

Suatu penghormatan bagi saya bisa mendampingi para Bangsawan yang notabene peduli dengan sejarah serta budaya Bangkalan. Khalayak akan bertanya, apa yang kita lakukan disana? Banyak sekali kesibukan yang dilakukan disana, namun yang paling inti hanya ada dua hal. Pertama, mengkonfirmasi sejarah/silsilah bahwa HB II sampai HB X masih berdarah Bangkalan (Madura Barat), maksudnya ada turunan dari kejayaan Cakraningrat II (Raden Undaan) yang menjadi keluarga HB II, selaras dengan tulisan (reportase) saya sebelumnya yang berjudul “Merajut Harkat di Ngayogyakarto”. Kemudian yang kedua adalah dialog dengan HB X mengenai cagar budaya, khusus di Bangkalan. Memangnya kenapa dengan cagar budaya di Bangkalan? Kira-kira itu yang ada di benak khalayak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here