Pembelajaran Daring Dikeluhkan, Butuh Negara dihadirkan

Oleh: Siti Nurul Hidayah, S.Si*

KELAKAR, Lingkarjatim.com – Sejak bulan Maret lalu, sekolah mulai diliburkan karena adanya pandemi covid-19 hingga saat ini. Adanya kondisi pandemi yang belum berakhir mengharuskan kebijakan belajar di rumah harus diperpanjang meskipun memasuki tahun pelajaran baru pada pertengahan bulan Juli lalu. Para siswa mengikuti pembelajaran di rumah dengan berbagai aplikasi pembelajaran dalam jaringan internet (daring) yang digunakan.

Bahkan karena kendala fasilitas pelaksanaan daring yang tidak memungkinkan di sebagian daerah siswa terpaksa masuk datang ke sekolah mengikuti pembelajaran dengan sistem luar jaringan internet (luring). Meskipun dengan berpakaian bebas demi terlaksananya kegiatan pembelajaran bagi anak.

Berbagai Keluhan Pembelajaran Daring
Banyak cerita dan fakta terjadi tentang pembelajaran daring yang harus diikuti siswa di masa pandemi covid 19 ini. Apalagi bagi para keluarga dengan kondisi ekonomi lemah yang anak-anaknya masih bersekolah dengan keharusan menjalankan pembelajaran daring ini. Dalam keluarga yang mengalami masalah kesulitan ekonomi di masa pandemi ini bahkan dihadapkan kondisi banyaknya PHK besar-besaran terjadi. Maka hal utama yang menjadi perhatian mereka adalah memenuhi kebutuhan pokok yaitu untuk makan sekelurga. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan makan saja begitu sulit apalagi mau membiayai pembelajaran daring anak mereka dengan membelikan HP dan kuota internet, pastilah tidak akan mampu mereka lakukan. Akhirnya kebutuhan pendidikan bagi anak tidak mampu mereka penuhi.

Seperti yang terjadi di Rembang, seorang siswa yang bernama Dimas tidak bisa mengikuti proses belajar dari rumah (BDR) secara daring karena tidak memiliki HP. Ia pun belajar di kelas seorang diri dengan dibimbing seorang guru. (portaljember-pikiran rakyat.com, 25 Juli 2020).

Termasuk beberapa siswa yang ada di pelosok desa di wilayah madura masih belum bisa merasakan pembelajaran sebagaimana mestinya. Seperti diutarakan Ahmad Muzanni salah siswa SD di Kecamatan Batumarmar. Ia mengaku sudah tidak lagi belajar sejak dua bulan lalu.(pojoksuramadu.com, 2 mei 2020)

Hal seperti ini tentunya tidak sedikit terjadi di berbagai daerah lainnya. Pembelajaran daring yang diharapkan menjadi alternatif cara agar anak tetap dapat melakukan pembelajaran dari rumah  masih belum bisa dirasakan oleh seluruh siswa di negeri ini.

Sehingga di setiap keluarga yang tidak mampu melakukannya harus melakukan upaya masing-masing untuk mencari solusi dari permasalahan tersebut sambil menunggu belas kasihan dari orang-orang di sekitarnya yang bisa membantu.

Selain permasalahan dari sisi kondisi ekonomi anak-anak dalam keluarga yang terbatas. Keluh kesah juga datang dari para orang tua anak yang merasa kerepotan dalam mendampingi anak-anaknya saat pembelajaran daring. Para orang tua yang tidak terbiasa membersamai anak-anak mereka sehari-hari di rumah merasakan beban.

Karena ada diantara sebagian orang yang berpemahaman ketika anak-anak mereka disekolahkan, sudah menjadi tanggung jawab para gurunya dalam mengajar dan mendidiknya. Orang tua merasa hanya bertanggung jawab dalam masalah pembiayaan. Apalagi jika anak mereka disekolahkan di sekolah mahal lagi full day. Sehingga di saat anak-anak mereka harus lebih banyak beraktivitas di rumah, membuat banyak orang tua yang tak paham itu menjadi darting (darah tinggi) karena stress menghadapi anak-anak mereka.

Orang tua mengeluhkan tentang belajar online di rumah dirasakan ribet dan merepotkan. Di samping itu adanya beban tugas bagi anak mereka yang tanpa bimbingan dari seorang guru dinilai kurang efektif karena tidak adanya pemahamam mendalam bagi anak yg didapatkan. Sehingga orang tua dengan pemahaman ala kadarnya yang harus menggantikan tugas seorang guru di rumah. Sedangkan tidak sedikit para orang tua yang masih harus bekerja di masa pandemi ini, termasuk kalangan ibu. Akhirnya anak mereka terpaksa ditinggal di rumah dengan dibekali hand phone dari orang tuanya tanpa bimbingan orang tuanya.

Butuh Hadirnya Negara
Beberapa kondisi ini sering terjadi di masyarakat yang banyak dikeluhkan melalui media sosial seperti facebook, twiter atau whatsap.

Karena permasalahan ini harus diatasi sendiri oleh keluarga mereka masing-masing agar anaknya tetap mendapatkan pelajaran dari guru di masa pandemi ini.
Melihat kondisi ini seharusnya negara hadir mengatasi problema pendidikan yang merupakan salah satu hak dasar yang seharusnya bisa dirasakan oleh semua rakyat di Indonesia.

Di saat negeri ini sudah memiliki fasilitas infrastruktur seperti jalan tol dimana-dimana, maka semestinya sarana telekomunikasi dan ketersediaan jaringan internet yang menunjang hak pendidikan rakyat bisa terpenuhi tanpa harus dibayar mahal.

Bahkan masih banyak wilayah di Indonesia yang belum dialiri listrik dan sinyal. Sehingga sangat diherankan jika respon mendikbud kaget  mengetahui kondisi ini. Padahal SE Mendikbud Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pembelajaran Daring telah dikeluarkan.

Namun ternyata kebijakan pembelajaran daring tidak disertai dengan pemahaman tentang fakta kondisi wilayah di Indonesia untuk menghasilkan kebijakan-kebijakan strategis dalam memetakan persoalan pendidikan dari Sabang sampai Merauke. Apalagi di masa pandemi ini pembelajaran jarak jauh membutuhkan terpenuhinya sarana tersebut.

Jika masih banyak rakyat mengeluhkan kebutuhan memenuhi fasilitas pembelajaran daring karena ketidakmampuan mereka dalam kondisi ekonomi. Sedangkan negara membiarkan rakyat mengatasi masalahnya sendiri, hal ini menunjukkan kegagalan pembangunan kapitalistik telah mengamputasi hak pendidikan di masa pandemi ini.

Begitu pula dalam mengatasi para orang tua yang kerepotan dalam mendampingi anak-anaknya saat pembelajaran daring, karena para orang tua harus keluar rumah untuk bekerja. Hal ini disebabkan karena belum adanya jaminan kemudahan untuk masyarakat dalam bekerja di masa pandemi ini. Khususnya bagi para Ibu yang akhirnya juga dituntut harus terjun ikut bekerja memenuhi kebutuhan keluarga karena lapangan pekerjaan bagi para suami mereka   dirasakan kian hari makin sempit. Padahal semestinya para ibu diharapkan bisa mendampingi anak-anak mereka di rumah.

Dengan demikian pembelajaran daring yang menuntut siswa belajar dari rumah (BDR) di masa pandemi ini bisa berlangsung dan dirasakan oleh semua anak di Indonesia tanpa terkendala sarana telekomunikasi karena bisa terfasilitasi dengan mudah. Dan anak-anak dapat didampingi orang tuanya yaitu para ibu karena para suami mereka telah mampu mencukupi kebutuhan keluarganya dari pekerjaan yang begitu luasnya tersedia di negeri ini.

Semoga tulisan ini mampu menjadi sumbangsih motivasi bagi pemangku kebijakan untuk bisa melayani ketersediaan kebutuhan rakyat di negeri ini. (*)

*Penulis adalah Guru dan Pemerhati Masyarakat

Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here