Prihal Jual Beli Seragam Sekolah, Ketua G25 Mengatakan SMKN 1 Kamal Diskriminatif dan Barbar

Bangkalan, Lingkarjatim.com,- Tidak hanya mengatakan kepala sekolah SMAN 1 Kamal Berbohong perihal keterangannya kepada media terkait ptaktik jual beli seragam berkedok koperasi, Ketua G25 Indonesia juga mengatakan bahwa kepala sekolah saat ini sudah pintar bersilat lidah melebihi politisi.

Hal tersebut disampaikan kepada lingkarjatim.com setelah membaca tulisan sebelumnya dengan judul “Jual Beli Seragam di SMKN 1 Kamal, Kepala Sekolah : Atas Kesepakatan dari Semua Orang Tua”.

“Mulut manis para kepala sekolah sekarang mendadak manis melebihi mulut manis para Politisi, seni “berpencak silat lidah” mereka sangat hebat dalam mengaburkan fakta dan kondisi riil pelayanan yang buruk dan praktik¬≤ komersialisasi pendidikan yang secara sepihak  bertujuan  untuk mengeruk  untung terhadap peserta didik,” ucapnya Jumat (28/07/23).

Tanggapan tersebut menurut Dasuki bukan tanpa alasan, dirinya memiliki cerita pengalaman tersendiri perihal pelayanan yang diberikan oleh petugas PPDB di SMKN 1 Kamal.

Baca Juga :  Tok..! Dindik Jatim Terbitkan SE Larangan Koperasi Sekolah Jual Seragam dan Sumbangan

“Kita menemukan fakta yang sangat nyata dalam Proses PPDB di SMK 1 Kamal kemaren, bahwa di samping harga kain seragam sangat mahal dan juga masih harus menjahit sendiri dengan memakai penjahit yang sudah mereka ajak kerja sama,” tuturnya menjelaskan.

Tidak hanya harga kain yang dianggap mahal, Dasuki juga mengatakan petugas PPDB juga tidak ramah terhadap para calon siswa yang berlatar belakang tidak mampu.

“Mereka juga sangat tidak ramah kepada siswa yang berlatar belakang tidak mampu, pernyataan Kasek SMK 1 Kamal tentang rembuk bersama orang tua siswa sebelumnya hanya bungkus agar mereka punya tameng supaya ketika di persoalkan seperti ini mereka memiliki alibi yang agak relatif kuat, padahal kenyataannya SMK 1 Kamal sangat kejam dan arogan terhadap anak yang dalam pembayaran pendaftarannya dengan cara menyicil,” tegasnya.

Baca Juga :  Pertanyakan Sistem Pencairan PIP, Disdik: Akses Aplikasi Sipintar

“Ketika Relawan G25 Indonesia mengantar beberapa anak untuk membayar pendaftaran dengan cara menyicil ( kita cicil masing2 1 juta/per anak) kertas isian formulirnya¬† langsung di remas dan dengan arogan mengatakan “kenapa tidak ngomong dari tadi klo mau nyicil” penyampaian dengan suara tinggi di depan anak yang akan jadi siswa sekolahnya¬† dan relawan yang membantunya yang disertai dengan ekspresi wajah yang tidak bsrsahabat menunjukkan bahwa Lembaga pendidikan yang seharusnya mengajari sikap ramah penuh akhlakul karimah justru malah sebaliknya, sikap arogan dan tidak bersahabat yang kita terima,” ucapnya bercerita pengalaman pahit saat melakukan daftar ulang di satu-satunya SMK di kecamatan Kamal itu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here