Pesan KHR Azaim Ibrahimy untuk Warga NU di Sumenep : Lindungi Tanah di Wilayah Pesisir

KHR Ach. Azaim Ibrahimy saat mengisi Halal Bihalal dan Ijazah Kubro yang digelar gabungan MWC NU Timur Daya Kabupaten Sumenep di Desa Banuaju Barat, Kecamatan Batang-Batang, Selasa (23/5) lalu.

SUMENEP, Lingkarjatim.com — Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur, KHR. Ach. Azaim Ibrahimy memberikan pesan khsus kepada masyarakat Kabupaten Sumenep. Beliau berpesan agar masyarakat Sumenep menjaga tanah yang ada di wilayah pesisir, khususnya pesisir pantura.

Hal ini disampaikan Kiai Azaim pada acara Halal Bihalal dan Ijazah Kubro yang digelar gabungan MWC NU Timur Daya Kabupaten Sumenep di Desa Banuaju Barat, Kecamatan Batang-Batang, Selasa (23/5) lalu.

Awalnya, beliau menyebut bahwa kemandirian masyarakat NU Sumenep menjadi inspirasi bagi daerah lain. Untuk itu, beliau meminta masyarakat Sumenep agar tidak tergiur oleh investor-investor yang datang untuk berinvestasi, apalagi jika menyangkut kepemilikan tanah di wilayah pesisir pantai.

Kata beliau, masyarakat Sumenep harus tetap menjadi tuan tanah di daerahnya sendiri. Jangan sampai tragedi penjajahan yang pernah terjadi tempo dulu kembali terulang.

Seperti diketahui, saat ini sebagian tanah yang ada pesisir pantai Kabupaten Sumenep sudah dibangun tambak udang. Tidak hanya dikelola orang lokal, bahkan sebagian tanah di wilayah pesisir sudah dikelola dan dimiliki orang luar daerah untuk penggarapan tambak udang.

“Jangan sampai terpengaruh oleh hal-hal yang lain, misalkan datang orang luar untuk investasi, kita adalah tuan tanah di negeri sendiri, jangan sampai kemudian dijajah, seperti dulu jaman VOC. VOC itu kan tamu, mau berdagang, tapi ke belakang menguasai jadi kolonial,” kata beliau dengan berbahasa Madura.

Apalagi, kata Kiai Azaim tanah tersebut merupakan warisan para leluhur. Jangan sampai tanah-tanah tersebut dijual. Jika tidak mampu digarap sendiri, maka maksimal disewakan. Jika disewakan, kendatipun dikerjakan dan dikelola investor, maka pemilik tanah akan tetap mendapat penghasilannya.

“Tapi kalau dijual, apalagi ada oknum tokoh masyarakat, dari pengurus NU ini bahaya, mari Sumenep ini kita jaga. Pesisir pantai ini kita jaga,” ungkap cicit KHR. As’ad Syamsul Arifin tersebut.

Beliau juga menyampaikan bahwasanya Kiai As’ad Syamsul Arifin pernah berdawuh, bahwa menjelang waktu hari kiamat, udang-udang yang ada di pesisir pantai itu merupakan senjata. Hanya saja, beliau tidak bisa menafsirkan makna dari apa yang didawuhkan tersebut.

“Dawuhnya Kiai As’ad, nanti menjelang kiamat, di wilayah pesisir itu hati-hati, udang-udang itu senjata. Saya tidak paham apa yang dimaksud udang itu adalah senjata. Apakah yang dimaksud itu tambak, ada gudang udangnya, ternyata di dalam gudang itu ada senjata, Wallahua’lam,” ucapnya.

“Kalau kemudian pekerjanya juga warga asing, punya senjata, punya kekuatan meliter, jadi tamu di pesisir, sepanjang pantura, kan bisa dikepung kita, jadi hati-hati,” imbuh beliau.

Untuk itu, beliau berpesan agar masyarakat tetap menjaga tanah yang ada di wilayah pesisir pantai demi milindungi keberlangsungan kehidupan anak cucunya. “Jadi saya titip kepada masyarakat, terutama tokoh masyarakat jangan sampai terpengaruh dengan uang yang sedikit itu, kasihanilah generasi kita,” tutup beliau. (Abdus Salam)

Leave a Comment