Guru Besar UINSA, Prof. M. Ridlwan Nasir Luncurkan Buku Biografi

Prof. M. Ridlwan Nasir saat meluncurkan buku Georafinya di Surabaya.

SURABAYA, LingkarJatim.com – Tepat di usia 66 tahun Prof. Dr. H. M. Ridlwan Nasir, MA resmi luncurkan buku Biografi  dengan judul “Menyongsong Takdir Meniti Asa” Sabtu, 05 Mei 2017 di Gedung Twin Towers B Lantai 3 Pascasarjana UINSA Surabaya.

“Di umur 60-an ini memang seharusnya wasiat-wasiat harus segera diberikan kepada anak-anak, cucu-cucu dan generasi berikutnya”ungkapnya.

Prof Ridlwan dalam sambutannya menyampaikan
Alasan dimunculkan judul pada buku Biografi itu, menurut mantan Rektor IAIN Sunan Ampel Dua periode ini, ada seorang anak yatim piatu di Makasar menulis buku berjudul Menentang Takdir, secara rasional anak itu senasib dengannya, menganggap tidak mungkin bisa meraih gelar Profesor, menjabat, dan lain sebagainya.

“Yang paling bagus Menyongsong Takdir. Takdir apa pun harus kita hadapi. Saya tidak berani buat judul kayak gitu karena seperti menentang Allah”ujar Mantan Aktivis PMII 1970an ini yang disambut tawa oleh tamu undangan.

Sebelum daftar ke kampus IAIN Sunan Ampel, Dia sudah yatim piatu akibat ditinggal oleh kedua orang tuanya. Namun Dia selalu berpegang teguh pada motto hidupnya untuk selalu memotivasinya. “Mereka laki-laki, mereka perempuan, mereka bisa, kamu bisa, mereka yakin, kamu yakin” kata Mantan Direktur Pascasarjana UINSA Surabaya periode 2010-2014.

Guru Besar UINSA ini lanjutnya, dirinya hanya bisa memberi motivasi kepada anak kandungnya dan kader-kadernya termasuk mahasiswanya.

“Saya bersyukur meskipun sudah tidak menjadi Rektor mereka tetap menganggap saya sebagai orang tuanya,” katanya. 

Sementara itu, Editor Buku Biografi tersebut, Prof. Masdar Hilmy menyampaikan judul buku biografi Prof. Ridlwan sudah merepresentasikan sejarah hidupnya. Pada buku itu menurutnya diceritakan masa kecilnya, kuliahnya dan sampai meniti karir pada puncaknya sebagai akademisi hingga menjabat dilevel nasional.

“Beliau adalah sosok yang mampu menyikapi problem dengan dua hal. Setiap ada masalah dia tidak hanya menyelesaikan denga cara dhohir tapi dengan batiniyah (Dzikir) juga,” kata Wakil Direktur Pascasarjana.

Saiful Bahar Sebagai orang dekatnya, menilai buku tersebut sangat inspiratif dan berharap bisa dibaca oleh generasi muda, Dia sebagai anak desa mampu membuktikan kesuksesannya sebagai akademisi di kota. (Sul/Nir)

Leave a Comment