Dalam pelaksanaan PTM ini, lanjut Eri, pelajar tidak diberikan waktu istirahat untuk keluar kelas, sehingga semua aktivitas dilakukan di dalam kelas. Bahkan kantin dan perpustakaan untuk sementara ditutup, agar memudahkan guru mengontrol para siswa dan lebih mudah melakukan evaluasi.
“Ini bentuk dari ikhtiar kita. Karena bagaimanapun pendidikan kalau lewat hybrid terus karakter jiwa yang hebat juga akan hilang, kalau online terus anak jadinya individualis. Sehingga pemkot dan DPRD meyakinkan kita berani lakukan (PTM) dan kita coba,” ujarnya.
Senada juga disampaikan Anggota Komisi D DPRD Surabaya, Herlina Harsono Njoto, bahwa pelaksanaan PTM 100 persen sesuai progres yang ditentukan. Mulai dari penerapan jarak 1 meter antar siswa hingga dilakukan secara 2 shift.
“Saya berharap nanti ini akan dilakukan monitoring dan evaluasi secara bertahap, juga memantau kondisi pandemi yang ada di Surabaya. Sehingga nanti ketika pandemi sudah terkontrol, bisa ditingkatkan benar-benar 100 persen PTM di sekolah,” kata Herlina.