Tidak Ada Makan Siang Gratis 

Oleh: Hasin, M.I.Kom

Tidak Ada Makan Siang Gratis, begitulah kira-kira istilah yang sering saya dapatkan dari teman-teman saat sedang di warung kopi….

Namun istilah itu memang benar adanya bahwa tidak ada yang benar-benar gratis di dunia ini. Kalaupun ada itu tidak akan benar-benar gratis, ada harga yang harus dibayar walaupun dengan cara yang lain…

Program bantuan sosial gratis pemerintah misalnya, itu tidak lah benar-benar gratis, ada harga yang harus dibayar dengan cara lain, bisa dengan hutang luar negeri, pajak yang lebih tinggi atau lainnya… Jadi tidak ada yang benar-benar gratis, begitupun dengan program pendidikan gratis, makan gratis, maupun internet gratis yang saat ini sedang viral.

Jadi jangan terlalu percaya diri apalagi berbangga-bangga diri kesana-kemari promosi program gratis. Kecuali bayarnya dengan menggunakan harta kekayaannya para koruptor. Dengan kata lain, berantas korupsi dan miskinkan koruptor, manfaatkan kekayaannya sepenuhnya untuk membayar program yang mendidik rakyat untuk berkembang menjadi lebih baik. Bukan dididik menjadi bangsa yang malas yang hanya menunggu program gratis yang sebenarnya tidak gratis.

Beri Pancing, Jangan Beri Ikan

Saya kadang bertanya, Mengapa pemerintah tidak mendidik dan memberikan peluang masyarakat untuk mengelola kekayaan negara yang katanya gemah ripah loh jinawi ini, agar bisa mendapatkan pekerjaan yang layak dan penghasilan yang lumayan agar bisa membayar pendidikan yang berkualitas walaupun harganya mahal. Agar mampu membeli makan yang bergizi walaupun mahal. Agar mampu membayar biaya akses internet walaupun mahal. Bukankah mahal itu menjadi murah jika kita bisa atau mampu membayar?

Karena berdasarkan pengalaman, apa-apa yang dikemas dengan istilah gratis oleh pemerintah hanya akan menjadi masalah baru di lapangan.

Contoh pangan gratis misalnya, bisa saja kualitas pangannya kurang baik, penyalurannya tidak tepat sasaran, menjadi objek bancaan oknum yang tidak bertanggung jawab, dan lain sebagainya.

Begitu juga pendidikan gratis, yang menikmati ditengarai hanya orang-orang tertentu yang punya akses orang dalam (ordal) dan bahkan orang yang sebenarnya mampu membayar biaya pendidikan pun ikut serta menikmati pendidikan gratis yang seyogianya disediakan untuk masyarakat yang tidak mampu untuk mencegah putus sekolah.

Apalagi internet gratis, saya tidak bisa membayangkan akan seperti apa nanti teknisnya, yang muncul di fikiran saya hanyalah mega korupsi puluhan triliun program BTS Kemenkominfo yang katanya progran ini dibuat untuk memperluas jaringan internet hingga ke pelosok desa tapi faktanya malah jadi proyek bancaan korupsi hingga ke desa-desa, he….

Saya juga tidak bisa membayangkan jika program internet gratis ini betul-betul direalisasikan akan berapa banyak generasi penerus bangsa yang akan kecanduan game online, wong belum digratiskan aja setiap sudut desa sudah di penuhi dengan anak-anak atau pemuda yang mabuk game atau judi online.

Saya malah berharap pemerintah mengalokasikan anggaran yang awalnya digunakan untuk mensubsidi program gratis tersebut lalu dialihkan untuk digunakan membangun banyak perusahaan padat karya untuk mengelola kekayaan alam yang ada lalu hasilnya digunakan untuk kebutuhan dalam negeri selebihnya kita ekspor, duh…. Apa saya mikirnya terlalu jauh ya? Atau memang negara ini yang tidak ada kemauan, bagi saya mewujudkan hal tersebut bukanlah hal sulit bagi negara jika mau.

Dari perusahaan tersebut pemerintah bisa menampung banyak masyarakat yang butuh pekerjaan yang otomatis mengurangi pengangguran dan menurunkan angka kemiskinan, serta meningkatkan kepercayaan diri sebagai bangsa besar yang berdaulat, tidak hanya sibuk mengirim buruh dan tenaga kasar bahkan tenaga kerja ilegal keluar negeri yang sering kali menjadi masalah bagi negeri sendiri karena banyaknya kasus perdagangan orang, kasus kekerasan, dan kasus-kasus lainnya yang menurut saya malah menurunkan derajat bangsa Indonesia.

Selain sebagai tempat menampung pengangguran, perusahaan ini juga akan menjadi tempat swasembada di berbagai sektor, yang paling menarik program ini akan menghilangkan orang yang selama ini hanya pura-pura miskin atau mengaku tidak mampu demi mendapatkan program gratis tersebut, padahal aslinya hanyalah pemalas, yang mana secara tidak langsung pemerintah mendidik masyarakat untuk menjadi pribadi yang jujur, pekerja keras dan bertanggung-jawab atas dirinya sendiri.

Dengan didirikannya banyak perusahaan ini juga akan menjadi solusi bagi pengangguran dibidang intelektual yang sudah kadung jauh-jauh sekolah keluarga negeri bayar mahal-mahal eh pulang-pulang jadi pengangguran sehingga banyak yang akhirnya memilih untuk tidak pulang dan bekerja untuk negara orang, walaupun sekolahnya dibiayai oleh negara melalui beasiswa. 

Mari Bersukur

Sekali lagi, berbicara prihal gratis, sungguh tidak ada yg benar-benar gratis, bahkan tubuh kita yang sudah tuhan berikan dengan gratis pun harus kita bayar dengan solat dan sedekah sebagai wujud rasa sukur. 

Namun alih-alih bersukur, banyak dari kita malah menggunakan apa yang sudah diberikan gratis oleh tuhan untuk hal yang negatif, seperti menghujat dan membongkar kejelekan paslon capres lainnya, hemmm……. Akhirnya penulis mengucapkan selamat melaksanakan hari tenang, beberapa hari menuju pesta demokrasi, semoga Indonesia semakin Baik.

*Penulis adalah Jurnalis sekaligus tenaga Pengajar Prodi Ilmu Komunikasi UTS.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here