Jelang Pemilukada, Pemanfaatan Medsos Harus Bijak

Figur-figur yang muncul dalam pemilukada Bangkalan 2018-2023

OPINI, Lingkarjatim.com – Meskipun pendaftaran calon bupati dan wakil bupati Bangkalan priode 2018-2023 belum dibuka secara resmi oleh KPUD setempat. Namun kontestasi dan kompetisi sudah dimulai. Hal itu, ditandai dengan maraknya sosialiasi figur dalam rupa dan cara yang beraneka.

Ada yang dengan terang-terangan meminta dukungan kepada masyarakat dengan cara menyebar atribut dan melakukan safari politik, ada yang sedikit malu-malu namun diam-diam menggalang dukungan dengan menggerakkan basis tertentu, dan ada pula yang kelihatan diam namun sejatinya bergerak secara perlahan. Itu semua hanyalah perbedaan metode, tapi tujuannya tetap satu: KEKUASAAN.

Yang menarik dari kontestasi ini adalah mereka (para kandidat) sama-sama melek teknologi. Sehingga tak heran, pemanfaatan media sosial seperti Facebook, tweeter, whatsapp dan lainnya menjadi pilihan dalam melakukan sosialisasi figur (kampanye). Ini menandakan bahwa kontestasi pemilukada di kota salak ini tak ketinggalan jaman (jaman now) meskipun pembangunannya dinilai stagnan.

Itulah pilihan tepat dalam era posmodern seperti saat ini, karena sebaran dan jangkauan media sosial lebih luas daripada media apa pun dan tentu akan menjadi kekuatan besar jika mampu dioptimalkan sebagai strategi sosialisasi.

Pemanfaatan media sosial ini sangat efektif untuk menyampaikan program kerja, ide, dan gagasan setiap calon kepada masyarakat luas, daripada cara konvensional. Akan tetapi, kita juga mesti waspada karena melalui media sosial pula potensi ujaran kebencian, propaganda negatif, provokatif, serta tak memedulikan etika dan norma bakal terjadi.

Bangkalan sebagai Kota Dzikir dan Shalawat yang menjujung nilai etik dan moral harus kita jaga bersama. Baik kontestan, simpatisan maupun penyelenggara (KPUD dan Panwaskab) harus tetap menaati aturan perundangan yang berlaku.   Ibarat sepak bola, jika wasit pertandingan bisa berlaku adil saat laga berjalan, maka benturan keras antar pemain yang berunjung cidera, sulit akan terjadi. Bahkan para suporterpun akan legowo menerima hasil pertandingan. Tapi, jika sang pegadil tidak mematuhi aturan main, maka suasana akan berubah menjadi tidak kondusif. Minimal akan mencederai perjalanan pertandingan.

Semoga kontestasi di Bangkalan berjalan kondusif dan melahirkan pemimpin amanah, sesuai keinginan rakyat.

 

M. Sodiq Ramadani
(Direktur Litbang Lingkarjatim)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here