Wagub Jatim Peringatkan Maba UINSA Tidak Jadi Mahasiswa Kupu-Kupu

Emil Dardak saat Memberi Sambutan

SURABAYA, Lingkarjatim.com – Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengatakan Kemajuan teknologi dan cepatnya perkembangan zaman menuntut generasi muda, terutama bagi para mahasiswa baru untuk terus bertindak sekaligus bersikap aktif dan produktif dalam mengembangkan potensi diri.

“Potensi diri perlu ditunjukkan dengan belajar beraneka macam ilmu selama menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi atau di lingkungan kampus. Disamping itu, mahasiswa juga harus mampu menciptakan active learning atau pembelajaran aktif sebagai bekal terbentuknya SDM yang kuat di masa depannya,” Katanya dihadapan 4.467 mahasiswa baru pada Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) di UINSA Surabaya, Kamis (15/8).

Lebih lanjut Emil Dardak menuturkan, jika semua usaha tersebut sudah dilakukan, tinggal bagaimana lingkungan kampus dapat memaksimalkan mahasiswanya.

“Ini yang kami istilahkan UINSA bahan baku atau material nya yang masuk ke kampus ini terbukti bagus. Jangan sampai Maba ini jadi kupu-kupu (kuliah pulang kuliah pulang) tetapi mereka harus mampu maksimalkan ilmu yang dipelajari lewat beragam kegiatan kampus,” ujarnya.

Karena, menurut Emil Dardak, yang membedakan para mahasiswa berkompeten di dunia profesional adalah hal pengalaman yang dimiliki. Salah satu tempat yang bisa membentuk pengalaman itu ada di dunia kampus.

Emil melihat, banyak para Maba yang menyadari bahwa ijazah bukanlah jaminan utama dalam menempuh pendidikan. Namun, yang terpenting adalah bagaimana mereka memiliki cita-cita untuk bisa terpenuhi melalui ilmu yang dipelajari.

“Itu sebenarnya menjadi bekal untuk menjadi pribadi yang kreatif karena sebenarnya untuk menguasai masa depan itu bukan hanya dengan teks atau teori semata, akan tetapi justru kemampuan menjadi individu pembelajar yang aktif dan produktif di era Milenial,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Emil juga memberi wejangan kepada Maba yang ingin menjadi guru setelah kuliah di UINSA. Menurutnya, menjadi guru di era milenial tuntutannya tidak sekedar lebih pintar dari anak didiknya. Tetapi, seorang guru harus bisa mengenali potensi anak didiknya dan mampu memaksimalkan potensi mereka.

Untuk itu dirinya berharap, agar selama 4 tahun kedepan, mereka tidak hanya mengejar Indeks Prestasi (IP) saja. Akan tetapi juga mencari cara dengan mengkolaborasikan lintas disiplin ilmu yang ada.

“Sebut saja jurusan humaniora perlu paham mengenai sains teknologi dan sebaliknya teknologi perlu paham mengenai humaniora,” jelasnya.

Dia menitipkan pesan kepada Maba untuk terus mengedepankan budi pekerti yang baik. Juga membangun pribadi yang baik serta memiliki etos kerja bagus.

“Karena percuma kita punya orang yang kerjanya baik tetapi nggak ada budi pekerti, akhirnya ketika bergaul di tengah-tengah masyarakat akan menjadi susah,” tutupnya. (Sul/Lim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here