Demo Anjloknya Harga Garam di Pemprov Jatim Berakhir Ricuh

Demo anjloknya harga garam

SURABAYA, Lingkarjatim.com – puluhan mahasiswa yang mengatasnamakan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Universitas Dr. Soetomo menggelar demo di kantor DPRD Provinsi Jawa Timur dan dilanjut ke Kantor Gubernur Jawa Timur, Jl. Pahlawan, Surabaya, Senin (22/07).

Aksi Demonstrasi tersebut dilakukan untuk menyikapi anjloknya harga garam yang sagat miris dan merugikan petani garam. “Kita sangat prihatin dengan anjloknya harga garam hari ini yang hanya dihargai Rp350 sampai dengan Rp.500 per Kg,” tegas Slow Ahmadi Neja Korlap Aksi.p

Slow Ahmadi Neja yang akrap disapa dengan Slow itu mengaku sangat terpanggil untuk melakukan aksi. Pasalnya harga garam yang sangat murah dianggap tidak manusiawi.

“Pada tahun 2016 dan 2018 harga garam yang awalnya Rp.1.500 per Kg sampai Rp.2.000 per Kg, kini turun sangat drastis dibawah Rp.500 Per Kg. Ini tentu sangat merugikan petambak garam bahkan untuk memenuhi kebutuhan sehari haripun tidak cukup,” paparnya saat dikonfirmasi.

Berikut 8 Poin tuntutan para pendemo:
1. Tolak impor garam.
2. Serap garam petambak garam dengan harga  1000-Rp 2000 per/kg.
3. Merevisi segala peraturan yang berbenturan dengan UU no 7 tahun 2016
4. Menfasilitasi srana dan prasarana infrastruktur untuk kelangsungan petambak garam.
5. Mengatur stabilitas tata niaga garam nasional
6. Meminta kepada gubernur untuk mengusulkan kepada kepada pemerintah pusat untuk melakukan perubahan  Perpres no 71 tahun 2015 dan memasukkan garam menjadi barang kebutuhan pokok dan barang penting.
7. Meminta kepada gubernur Jawa timur untuk mengusulkan ke pemerintah pusat terkait penetapan HPP (harga patokan pemerintah).

Aksi tersebut berakhir ricuh, sempat bentrok antara massa aksi dengan pihak keamaan, yang pada akhirnya sekitar 10 mahasiswa diamankan dan diangkut ke truk polisi.

Sepuluh mahasiswa tersebut yaitu Slow Ahmadi Neja, Nurul Huda, Syamsul, Rahman, Yudha, Syafiudin, Satrio, Yongki, Badrus dan Haqi. Mereka diamankan ke Polrestabes Surabaya dan dimediasi bersama pihak Pemprov Jatim.

Meski mediasi sudah selesai Slow sebagai Korlap sekaligus ketua PMII Universitas Dr. Soetomo sangat kecewa dengan tindakan kepolisian yang terkesan menghalangi.

“Saya sangat mengecam terhadap tindakan kepolisian yang menjadi penghalang kami, terutama meraka yang telah menonjok dan memukuli saya dan juga sahabat sahabat saya, padahal kami melaksanakan Aksi ini murni untuk menjadi penyambung Rakyat kecil,” kesalnya. (Ton/Lim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here