Menu

Mode Gelap

LINGKAR UTAMA · 4 Nov 2022 08:04 WIB ·

Menggugat Peran Duta Kampus


Menggugat Peran Duta Kampus Perbesar

Oleh : Rossim*

Secara terus terang, sebagai pemuda biasa yang berangkat dari latar belakang anak desa/anak petani, saya sangat bangga dan bersyukur bisa diberi anugerah besar menjadi bagian dari generasi yang bisa melanjutkan pendidikan sampai ke perguruan tinggi. Tidak terasa, sekarang sudah semester lima, artinya sudah 2 tahun lebih menyandang gelar mahasiswa, gelar yang begitu memikul harapan serta tantangan dan sebaliknya suatu kesedihan.

Sebagai mahasiswa tentunya harus pekka terhadap keadaan dan wajib hukumnya untuk berusaha merubahnya, sebagaimana kata salah satu filsuf yunani, “Bahwa tidak ada yang abadi kecuali perubahan”. Dan tentunya perubahan yang dikhayalkan tersebut harus bermuara ke arah yang lebih ideal.

Coretan ini berangkat dari refleksi pribadi yang beberapa bulan lalu hingga hari ini penulis mengamati secara mendalam terkait keadaan sekitar(kampus STITAL) yang agak menjengkelkan dan menggelikan.

Berawal dari diskusi dengan kawan-kawan mahasiswa STITAL disalah satu warung kopi, memantik saya untuk memberanikan diri menulis. Karna dari pada kegundahan ini hanya mengawang difikiran yang efeknya tidak baik terhadap mental, mungkin alangkah baiknya unek-unek dikepala saya tuangkan berbentuk tulisan. Tohh saya juga tidak menutup kemungkinan bahwa keadaan serupa juga dirasakan oleh mahasiswa lainnya. Jadi tulisan ini tidak ada maksud menjatuhkan salah satu pihak, tapi ini murni untuk mengekspresikan kegundahan yang mungkin dialami oleh mahasiswa sebaya yang bisa jadi tidak berani dalam menyuarakan suatu keresahan.

Ibarat lantunan lagu didi kempot yang akhir-akhir ini digandrungi oleh sekelompok anak muda karna telah mewakili dan mampu menggambarkan perasaannya yang sedang galau dan sendu. Dan tulisan ini mungkin sebagai bentuk ekspresi yang mewakili dari kekecewaan terhadap sebuah tatanan yang ada.

Sesuai judul diatas, bahwa kampus tercinta kita sudah 2 tahun belakangan muncul sosok Duta. Dua kali pergelaran diadakan dalam pemilihan Icon Kampus tersebut. Sebagai Icon Kampus, tentunya sangat luar biasa sandang yang diberikan. Dalam artian, mereka tersebut adalah representasi dari seluruh mahasiswa STIT AL-Ibrohimy, tentunya dari segi kualitas, intelektual, kepribadian, kekreatifitasan serta ke prestasian. Dan itu memang seharusnya dan ke idealannya menjadi potret representatif seluruh elemen mahasiswa se Kampus.

Dari dekspripsi diatas, tentunya untuk menjadi figur yang mengatasnamakan seluruh masyarakat kampus adalah sesuatu yang membanggakan tersendiri namun tentunya dibalik kebanggaan itu terdapat juga perasaan yang memberatkan, butuh kepercayaan besar yang harus dipupuk, karna memikul peran sentral yang cita-cita besarnya sebagai partner kampus dalam upaya akselerasi pembangunan SDM guna kemajuan kampus bukanlah remeh dan jangan dianggap remeh.

Adanya sosok Duta di Perguruan Tinggi memang secara sekilas suatu bentuk kemajuan tersendiri bagi kampus, apalagi menculnya Duta tersebut di Perguruan Tinggi Swasta. Yang artinya, secara general kampus yang bertagline “Kampus Masa Depan” tersebut telah mampu bersaing dengan kampus negeri lainnya. Namun, bagi saya pribadi tidaklah baik mental yang hanya mengejar persaingan, bahkan menjadi suatu dosa besar ketika kita hanya fokus dalam ranah persaingan saja.

Selaras dengan apa yang dikatakan founding father kita,Soekarno pernah berkata, bahwa “Setiap bangsa punya cara berjuangnya sendiri”. Atau ketika saya tarik ke miniatur negara, setiap kampus seharusnya punya cara berjuangnya atau karakteristiknya sendiri yang perjuangannya didasarkan pada kesanggupannya. Karna obsesi yang berorientasi pada daya saing akan melahirkan sindrom yang berbahaya, sebagaimana Paul Krugman menyatakan dalam artikelnya, bahwa “Daya saing sebagai gagasan yang berbahaya”.

Sangat disayangkan kawan-kawan sekalian, keberadaan Duta di kampus yang sampai hari ini menginjak usia dua tahun (dua priode) tidak mampu memberi suatu perubahan terhadap kampus, atau dalam kaidah arab disebutkan “Wujuduhu ka Adamihi” “keberadaannya sebagaimana tidak adanya”.

Padahal dilihat dari estimasi dana sangatlah besar, tidak tanggung-tanggung, biaya yang dihabiskan dalam agenda besar,pemilihan Duta setiap pergelarannya menghabiskan dana kurang lebih sekitar 10-15 juta.

Facebook Comments Box
Artikel ini telah dibaca 0 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Jelang Pilkada, PKB Buka Pendaftaran Calon Bupati Bangkalan 2024

24 April 2024 - 17:32 WIB

Peringati HPN 2024, PWI Sidoarjo Bagikan Sembako untuk Warga Terdampak Banjir

24 April 2024 - 17:24 WIB

Halalbihalal dengan Wartawan, PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Gaungkan Peduli Lingkungan

23 April 2024 - 19:52 WIB

Terjerat Kasus Korupsi, Mantan Bupati Malang RK Akhirnya Bebas Bersyarat

23 April 2024 - 16:37 WIB

Pelantikan ASN Sidoarjo Cacat Prosedur, Sekda : Saya Mohon Maaf

23 April 2024 - 16:15 WIB

Tabrak Mobil Tronton, Suami Istri Pengendara Honda Vario Meninggal Dunia

23 April 2024 - 15:42 WIB

Trending di HUKUM & KRIMINAL