Suara Anjlok di Pemilu 2019, Demokrat dan PAN Jatim Ragukan Hasil Survei LSI

Soekarwo Ketua DPD Partai Demokrat

SURABAYA, Lingkarjatim.com – Hasil survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) Denny JA tentang prediksi perolehan suara Partai Politik di Jawa Timur pada Pemilu 2019 mendatang, diprotes banyak kalangan. Pasalnya, hasil survei itu menempatkan posisi Partai Amanat Nasional (PAN) berada di bawah Partai Perindo dan prolehan suara Partai Demokrat diprediksi anjlok pada Pemilu tahun depan.

Survei yang digelar LSI itu melibatkan 600 responden dilaksanakan pada 4-14 Oktober 2018. Hasilnya, PKB sebagai partai urutan pertama yang akan mendulang suara terbanyak di Jatim, jika pemilu dilakukan saat ini dengan perolehan 21,7 persen. Urutan kedua PDIP 21 persen, ketiga Partai Golkar 5,2 persen, keempat Partai Gerindra 4,6 persen dan kelima Partai Demokrat 3,6 persen.

Menariknya, Partai Perindo yang merupakan pendatang baru menempati urutan keenam dengan perolehan 1,7 persen, disusul PPP 1,7 persen dan PAN 1,4 persen. Sebaliknya Partai NasDem yang cukup menggelegar suaranya di Jatim ternyata hasil survey LSI menempatkan partai besutan Surya Paloh diurutan kesembilan dengan perolehan 0,8 persen. Disusul PKS dengan 0,7 persen, PBB 0,3 persen, PSI 0,3 persen, Hanura 0,2 persen, serta Partai Berkarya, Partai Garuda dan PKPI masing-masing mendapat perolehan 0 persen.

Menanggapi perihal tersebut, Ketua DPD Partai Demokrat Jatim, Soekarwo, ragu dengan hasil survei LSI itu. Ia menilai hasil survei LSI terkait perilaku pemilih di Jatim terhadap partai-partai peserta pemilu 2019 tidak sepenuhnya benar. Alasannya survei LSI itu hanya mengandalkan suara partai bukan pada figur caleg partai.

“Daerah pemilihan (Dapil) di Jatim itu memiliki karakter yang berbeda-beda. Kalau di Dapil 7 meliputi Pacitan, Trenggalek, Ponorogo, Magetan dan Ngawi pemilih yang mencoblos partai kisaran 30-40 persen tapi di Dapil 11 Madura justru yang mencoblos partai kisaran 3,5-10 persen saja, karena lebih banyak yang mencoblos caleg,” kata Pakde Karwo, sapaan akrabnya, di Surabaya, Jumat (9/11).

Meski demikian, Pakde Karwo menganggap hasil survei itu benar adanya jika untuk suara partai. Artinya, suara partai besar itu mungkin betul. “Tapi suara partai kecil belum tentu kecil juga hasil kursinya. Sebab terkadang ketokohan caleg lebih besar dari partai di dapil tertentu sehingga suara total partai tetap besar,” katanya.

Sementara itu, Bendahara DPW PAN Jatim, Agus Maimun, juga memprotes hasil survei LSI itu. Terlebih menempatkan PAN dibawah partai yang baru seumur jagung, yakni Partai Perindo. Padahal kondisi riil masyarakat Jatim berdasarkan ormas keagamaan yang terbesar setelah NU adalah Muhammadiyah.

“Kalau PKB besar di Jatim itu wajar. Sebab mayoritas warga NU cenderung afiliasi politiknya ke PKB. Sedangkan warga Muhammadiyah afiliasi politiknya ke PAN, sehingga kalau PAN di bawah Perindro itu, saya kira kurang masuk diakal karena ormas keagamaan terbesar kedua di Jatim adalah Muhammadiyah,” kata pria yang juga anggota DPRD Jatim itu. (Mal/Lim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here