Politik DKI Menjadi Barometer Politik Indonesia

Politik DKI memanas mulai dari beberapa bulan lalu dan puncaknya berakhir pada tanggal 19 April 2017 dengan pemilihan gubernur DKI Jakarta putran kedua. Beberapa bulan dan hari lalu sebelum pemilihan putaran kedua berakhir, ritme politik memanas dengan adu gagasan dan intrik yang tidak jarang masing-masing pendukung mengeluarkan pernyataan pedas secara verbal maupun tertulis dalam media menstrim dan media sosial yang keluar dari takaran adat atau budaya Indonesia. Panasnya politik DKI tidak hanya dirasakan di Jakarta saja, tapi di seluruh Indonesia. Karena politik DKI merupakan barometer politik Indonesia. Tidak heran kemudian, jika semua lapisan masyarakat mulai dari atas hingga bahwa berbicara tentang politik DKI dengan pengetahuan dan pengalaman mereka masing-masing. Karena hampir semua chanel televisi menyiarkan setiap perkembangan politik DKI. Semua masyarakat dengan kemudahan teknologi dapat mengakses baik dari televisi, media cetak ataupun media online.

Informasi yang diserap oleh masyarakat membawa keadaan Indonesia semakin dinamis dan pada titik tertentu dapat mengikis nilai-nilai nasionalisme. Gejala keretakan itu dapat dirasakan dengan perbedaan menerima dan merespon informasi politik DKI Jakarta yang tidak jarang menggunakan jalan pintas untuk memenangkan suatu pemilihan. Namun kedewasaan para kontestan politik setelah putaran kedua berakhir dapat meredakan keadaan yang sudah mulai tidak nyaman dan aman. Semua kontestan menunjukkan kedewasaan mereka masing-masing dengan memberikan selamat kepada yang menang menurut perhitungan cepat dan yang menang berjanji akan mau bekerjasama dengan semua elemen masyarakat dan juga dengan para pemegang kekuasaan saat ini. Kecerdasan dan kedewasaan mereka dalam berpolitik sudah mulai nampak dengan bersikap sebagai seorang kesatria yang tidak hanya siap menang, tapi juga mengakui kemenangan lawan. Sikap seperti ini harus benar-benar di jadikan tauladan atau contoh untuk daerah lain yang mengikuti kontestasi politik untuk kemenangan masyarakat secara umum bukan hanya segelintir orang atau satu kelompok semata.

Ada ucapan yang dapat dijadikan contoh dalam berpolitik secara dewasa yaitu “jakarta rumah kita bersama”, itu adalah ucapan Basuki Tjahaja Purnama yang dikenal dengan Ahok sebagai incomben, ucapan disampaikan di beberapa chanel televisi. Pernyataan itu menandakan sebagai seorang negarawan yang memiliki rasa cinta terhadap Indonesia. Kekalahan beliau dalam perhitungan cepat kontestasi politik tidak membuat beliau bersikap apatis, acuh dan egois. Sikap legawa dan lapang dada mengisyaratkan bahwa dia adalah salah satu generasi terbaik bangsa Indonesia yang memiliki rasa nasionalisme untuk Indonesia dan Jakarta begitu lekat dengan sikapnya.

Sikap lain yang tidak kalah menariknya adalah sikap Anies-Sandi sebagai pemenang pemilihan gubernur DKI Jakarta versi  penghitungan cepat memberikan pernyataan ingin mengunjungi gubernur sekarang atau rival politik mereka Basuki Tjahaja Purnama untuk dapat bekerjasama dalam memajukan Jakarta. Kerendah hati mereka dapat menjadi contoh dan modal dalam mengangkat harkat dan martabat bangsa ini yang sudah lama tiada yang peduli. Rasa peduli itu mengindikasikan kebangkitan  Indonesia dengan sikap sebagian generasi bangsa ini yang masih punya hati untuk membawa Indonesia dalam kemajuan yang diharapkan oleh semua masyarakat, sebagai bentuk kabanggaan dan kebahagiaan memiliki bangsa yang beradab.

Kebahagian juga dirasakan oleh Presiden ketiga Indonesia Bj Habibi dengan memberikan pernyataan inspiratif untuk memotivasi masyarakat Indonesia bahwa berakhirnya pemilihan gubernur DKI Jakarta putaran kedua “yang menang adalah rakyat Indonesia”. Pernyataan itu menandai bahwa Indonesia untuk semua bukan untuk beberapa orang atau kelompok yang harus membangun hubungan sosial dan emosional. Hubungan sosial dan emosional harus kita bangun untuk menciptakan keadaan yang kondusif dalam menjalani irama kehidupan di tanah Indonesia. Indonesia dikenal dengan kesantunan dan rasa toleransi terhadap sesama. Maka hari ini kita harus dapat membuktikan dengan berakhirnya pemilihan putaran kedua DKI Jakarta ini, bukan lagi berbicara siapa yang menang dan siapa yang kalah, tapi kemenangan ini untuk Indonesia dan untuk Jakarta pada khususnya.

 

Oleh : Yuriadi Dosen Psikologi Sosial Universitas Trunojoyo Madura

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here