Madura Penghasil Garam, Jatim Masih Impor Garam. Ini Kata Pakde Karwo

MetropolitanLingkarJatim-Pulau Madura yang terkenal dengan penghasil garam terbesar di Jatim, tapi belum bisa memenuhi kebutuhan masyarakat Jatim. Akibatnya, Pemprov Jatim harus mengimpor garam 2,5 Juta ton pada tahun 2017.

“80 persen produk garam di Madura garam industri. Itu sudah meningkat dan sudah bagus. Tapi, jika musim penghujan, hasil produk hancur. Itu permasalahanya. Kita tidak bisa menyalahkan musim, tapi teknologi kita memang belum mampu mengatasinya,” terang Gubernur Jatim, Soekarwo kepada LingkarJatim, usai Rapat Paripurna di Gedung DPRD Jatim, Senin (22/02/2017).

Pakde Karwo membandingkan produksi garam di luar negeri seperti Australia. Di tempat itu, katanya, ada tambang garam yang tinggal ngeruk. Sehingga tidak perlu ada proses produksi seperti yang di Madura.

Dia menuturkan masyarakat jangan terlalu alergi dengan garam impor. Karena musim penghujan juga tidak bisa disalahkan. “Jangan terlalu mengalergikan, kalau produksi garam lebih ya ekspor, kalau kurang ya impor. Karena kalau tidak membiasakan seperti itu korbanya harga yang naik dikelompok bawah,” katanya.

Dikatakan Pakde Karwo-panggilan akrab Soekarwo, dalam melakukan impor garam sesuai aturan.“Khusus garam, dua bulan sebelum dan sesudah panen tidak diperbolehkan impor karena itu mengganggu produksi garam,” tambahnya.

Karena itu, garam impor yang masuk ke Jatim diharapkan Pakde Karwo mampu memenuhi kebutuhan industry. Sebab, garam lokal saat musim penghujan tidak bisa berproduksi. “Perusahaan kan membutuhkan garam untuk produksi makanan dan minuman. Dari 100 persen industri itu, 30 persen kebutuhan garam untuk industri makanan dan minuman,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here