Saling Serang Antar Pendukung Paslon di Medsos, Pengamat: Tak Ada Gunanya

Pengamat politik dari UTM Surokim Abdus Salam

BANGKALAN, Lingkarjatim.com – Diera digital saat ini, mengakses informasi menjadi sangatlah mudah. Keberadaan media sosial bisa menjadi salah satu wadah untuk saling bertukar informasi. Selain itu media sosial juga bisa menjadi sarana promosi yang sangat ideal.

Memasuki tahun politik 2018 ini, lagi-lagi media sosial menjadi daya tarik tersendiri bagi para pasangan calon kepala daerah untuk meperkenalkan diri ke khalayak ramai dengan tujuan bisa menggaet simpati masyarakat luas.

“Adu visi-misi, menebar postingan program unggulan di Facebook, Twitter, Instagram atau YouTube menjadi sebuah keharusan bagi para tim sukses pasangan calon,” kata pengamat politik Surokim Abdussalam saat dihubungi, Minggu (04/02/2018).

Namun dirinya juga menyebutkan bahwa tak sedikit timses atau simpatisan yang malah memposting tentang keburukan para calon lainnya atau mengungkit kasus hukum yang sudah lama yang melibatkan salah satu pasangan calon.

Seperti yang terjadi di Pilkada Bangkalan, akhir-akhir ini banyak bermunculan akun-akun anomin di media sosial Facebook yang dengan sengaja memposting tentang masa lalu atau gosip miring dengan alasan agar masyarakat paham dan mengetahui secara utuh profil salah satu calon bupati.

Menurut Dekan Fakulatas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya (Fisib) UTM itu negatif campaign dalam situasi seperti sekarang sudah tidak efektif lagi. Menurutnya lebih baik menawarkan program yang solutif untuk masyarakat.

“Itu akan menjadi edukasi juga untuk pemilih dan bisa meningkatkan kualitas demokrasi electoral,” ucapnya.

Dari hasil survey kata Surokim, strategi attacking hal semacam itu tidak memiliki pengaruh lama dalam memori pemilih, oleh karena itu efektivitasnya hanya sesaat saja dan terkesan tidak ada gunanya alias sia-sia.

“Ya dalam platform politik zaman now memang medsos menjadi media yang paling bayak diakses publik dan mudah digunakan untuk delivery pesan pilkada. Namun sejauh yang saya amati negatif campaign tidak efektif. Untuk meraih dukungan lebih baik menawarkan solusi riil untuk problem yang dihadapi masyarakat pemilih,” jelasnya.

Sebagai akademisi, Surokim melihat Pilkada Bangkalan ini bisa membangun budaya politik yang elegan dengan lebih  banyak menawarkan solusi program riil dari pada saling attacking.

“Tidak hanya baik untuk situasi yang damai tetapi juga untuk mengedukasi publik agar lebih cerdas dalam memilih,” paparnya. (Zan/Lim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here