Petani Garam Desa Pesanggrahan Belajar Mengolah Garam Krosok Menjadi Garam Konsumsi Beryodium


Para petani garam Desa Pesanggrahan mengikuti pelatihan olah garam Krosok jadi garam konsumsi yudisium.

BANGKALAN, Lingkarjatim.com– Ditengah anjloknya harga garam, petani garam di Desa Pesanggrahan, Kecamatan Kwanyar, Kabupaten Bangkalan belajar menyulap hasil garam mereka dari garam krosok menjadi garam konsumsi beryodium.

Para petani garam belajar mengolah garam tersebut didampingi Mahasiswa yang tengah melakukan KKN, dalam hal ini kelompok KKN 01 UTM.

Menurut Kordinator Desa Kelompok KKN 01 UTM Faiz, anjloknya harga garam membuat para petani garam mengalami kerugian. Oleh kerena itu para petani garam harus bisa kreatif dan inovatif, seperti halnya menyulap garam krosok menjadi garam beryodium, sehingga nantinya dari hasil olahan tersebut petani garam bisa menjual garam mereka sesuai dengan harga garam dipasar.

“Garam merupakan salah satu mineral yang dihasilkan dari proses evaporasi air laut. Garam adalah bahan pangan yang sangat penting sebagai bahan tambahan masakan rumahan. Sangat mudah untuk menemukan garam di toko-toko terdekat, terlebih garam konsumsi beryodium. Nah nanti hasil dari olahan itu bisa dijual ke toko atau pasar,” Kata Faiz, Minggu (21/7/2019).

Madura kata dia, dijuluki sebagai pulau garam tetapi hal ini bukan berarti Madura memiliki pendapatan besar yang berasal dari garam. Sebagian penduduk di Pulau Madura bermata pencaharian sebagai petani garam. Begitu juga di Desa Pesanggrahan.

“Desa Pesanggrahan ini juga memiliki lahan tambak garam yang cukup luas dan petani yang cukup banyak, namun kebanyakan petani langsung menjual hasil panen garamnya kepada tengkulak. Padahal garam tersebut bisa di kemas secara mandiri agar mendapatkan laba yang lebih besar,” Paparnya.

Dalam pelatihan pengolahan garam krosok menjadi garam konsumsi beryodium tersebut lanjut Faiz, selain mengajak para petani garam untuk mengikuti pelatihan tersebut, kelompok KKN 01 UTM bekerjasama dengan dosen Jurusan Kelautan dan Perikanan UTM.

“Alasannya, karena dosen Jurusan Kelautan dan Perikanan UTM memahami dengan baik cara pengolahan garam krosok tersebut menjadi garam konsumsi beryodium,“ jelasnya.

Ia pun berharap pelatihan tersebut bisa menambah ilmu petani garam dalam mengolah garam krosok menjadi garam konsumsi beryodium.

“Kami juga berharap setelah adanya pelatihan ini Desa Pesanggrahan dapat memproduksi garam konsumsi beryodium secara mandiri di masa yang akan datang. Pesanggrahan memiliki potensi besar dalam bidang tambak garam dan amat disayangkan jika garam yang ada di desa ini hanya menjadi garam krosok saja,” tandanya.

Pelatihan pengolahan garam krosok menjadi garam konsumsi beryodium mendapat

Sementara itu salah satu petani garam Desa Pesanggrahan Sabidin mengaku sangat senang dengan pelatihan tersebut, apalagi saat ini harga garam sangat anjlok dan merugikan petani garam.

“Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi kami dan Kami berharap ada pelatihan-pelatihan lain lagi yang membuat ilmu kami bertambah, sehingga saat memproduksi garam, kami dapat menerapkan ilmu yang kami dapat di pelatihan ini” ucap Sabidin dengan singkat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here