UPN dan UTM Dampingi Petani Belimbing Adopsi Teknologi Tepat Guna Pengempos Tikus

TUBAN, Lingkarjatim.com – Permasalahan serius yang dihadapi oleh petani belimbing tasikmadu di Kabupaten Tuban adalah hama tikus. Tanaman belimbing yang dibudidayakan oleh petani rusak akibat serangan hama tikus. Pada musim tertentu serangan hama tikus dapat menyebabkan kegagalan panen dan menyebabkan kerugian bagi petani.

Tikus sendiri merupakan hewan omnivora yang cenderung menjadi hama bagi manusia dan memiliki wilayah serangan yang luas. Salah satu dosen Fakultas Pertanian UPN “Veteran” Jawa Timur, Noni Rahmadhini, SP., MSc. mengatakan “Tikus merupakan hama penting bagi tanaman dengan tingkat serangan mencapai lebih dari 100.000 ha tanaman pertahun” ujarnya.

Dalam permasalahan yang dihadapi oleh petani belimbing tasikmadu di Kabupaten Tuban ini, dosen dan mahasiswa dari Fakultas Pertanian UPN “Veteran” Jawa Timur bekerjasama dengan dosen dari Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo mendampingi petani dalam merancang alat pengendalian dan menerapkan metode pengendalian terpadu menggunakan Mouse Fumigator Semi-Automatic. Uji coba alat pengendalian ini dilakukan setelah adanya kegiatan monitoring hama yang bertujuan untuk memperkirakan tingkat kerapatan populasi (estimating of pest density) sehingga dapat menentukan status serangan hama dan selanjutnya dapat menyusun tindakan pengendalian dengan tepat.

Syaiful Khoiri, SP., MSi. selaku perwakilan dari Laboratorium Proteksi dan Lingkungan Tanaman, Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Trunojoyo Madura mengatakan “Hal yang harus diperhatikan dalam kegiatan ini adalah dengan memahami konsep dan strategi pengendalian tikus terpadu sehingga mampu menerapkannya sesuai dengan kondisi agroekosistem dan sosial-budaya masyarakat di daerah sasaran pengendalian”.

Cara kerja Mouse Fumigator Semi-Automatic yang diterapkan dalam mengelola serangan hama tikus adalah dengan proses penyemprotan gas atau asap dimana dalam gas atau asap ini terkandung senyawa bahan kimia tertentu yang bersifat racun bagi tikus. Gas atau asap yang dihasilkan dari alat fumigator tersebut lantas dimasukkan pada lubang aktif tikus dengan harapan tikus dan anakannya akan mati terpapar asap beracun.

Dita Megasari, SP., M.Si. selaku ketua tim menyampaikan bahwa alat ini akan terus disempurnakan bersama dengan petani untuk menyesuaikan keadaan di lapangan, sehingga nantinya alat ini dapat memudahkan petani dalam mengendalikan hama tikus (08/09/2021). (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here