Mendapat Beasiswa ke Palu, Mahasiswa Asal Bangkalan ini Selamat dari Gempa dan Tsunami

Ni’matul Hafidho, mahasiswa Palu asal Kamal, Bangkalan yang selamat dari bencana gempa dan tsunami.

BANGKALAN, Lingkarjatim.com– Ni’matul Hafhido perempuan cantik asal desa kebun Kecamatan Kamal, Bangkalan ini berhasil selamat dari musibah gempa bumi serta tsunami di Palu, Sulawesi tengah yang terjadi beberapa waktu lalu.

Ni’matul Hafhido mendapatkan beasiswa pertukaran pelajar berkat program afirmasi adik 3T ke Universitas Tadulako. Ia tinggal di kelurahan Tondo, Palu Timur.

Sebelum musibah itu menimpa daerah palu Ni’matul Hafhido bersama temannya mencari tempat kos baru. Tidak kunjung menemukan kos sesuai keinginannya. Ni’matul Hafhido kembali ke kos yang lama.

Disela-sela kamar kos Vivi panggilannya, sempat merasakan getaran. Ia lari ke luar kamar kos. Getaran itu kata Vivi memang seperti makanan sehari-hari bagi masyarakat Palu.

“Memang sering kali merasakan getaran,” katanya usai dihubungi, Senin (08/10/2018).

Tak lama setelah merasakan getaran itu
kata perempuan cantik 20 tahun itu, gempa yang berkekuatan 7,4 magnitudo itu mengguncang Palu. Akhirnya ia langsung melarikan diri dari kamar sampai berbenturan dengan motor yang terparkir di rumah kos itu.

Akhirnya, Vivi melihat orang-orang sudah berkumpul di jalanan. Namun, gempa masih terus mengguncang. Tak lama kemudian ada orang yang berteriak “air laut naik, air laut naik”.

“Orang orang berhamburan lari mencari perlindungan dengan mencari tempat yang agak tinggi, untuk menghindari air laut itu, saya lari itu hanya sebatas diri dan baju yang melekat,” katanya.

Gempa mulai reda, Vivi akhirnya mengambil barang berharga laptop dan Handphone. Setelah berhasil diambil dirinya langsung menghubungi keluarganya di Madura supaya didoakan agar selamat dari musibah gempa beserta tsunami.

Usai menghubungi keluarga di Kamal, akhirnya Vivi bergabung dengan warga yang duduk di lapangan sembari meminta untuk bergabung. Seorang Ibu langsung mengiyakan permintaanya sambil lalu mengajak berdzikir kalau beragama Islam. Sedangkan temannya, berdoa sesuai dengan keyakinannya karena memang berbeda agama.

“Saya berfikir bahwa saya tidak punya siapa-siapa kecuali ikut keluarga ibu itu, akhirnya kami naik mobil pick up menuju ke bukit dan beristirahat di atas bukit selama tiga hari dengan makanan seadanya. Keesokan harinya teman saya mengajak mencari keluarganya dan Alhamdulillah ketemu,” ceritanya.

Tak lama kemudian ia mendapatkan informasi kalau ada pesawat Hercules gratis untuk mengungsi dari palu. Bahkan dirinya juga sempat memberikan kabar hal itu kepada keluarga.

“Saya minta bantu diantarkan ke bandara dimana pesawat Hercules itu berada, saya mencari informasi pesawat yang ke Makassar tetapi tidak ada,” ujarnya.

Ia menunggu beberapa hari di bandara dengan tidur di mosolla, disanalah dirinya mengalami haus dan kelaparan yang luar biasa. Tak lama kemudian ia berhasil naik pesawat Hercules menuju Balikpapan.

“Sesampainya di sana saya menghubungi keluarga untuk membeli tiket menuju Surabaya, akhirnya alhamdulilah saya selamat,” terangnya.

Ditanya soal masa depan kuliahnya, Ni’matul Hafhido mengaku simpang siur dengan pendapat keluarganya. Keluarga menginginkan pindah kampus ke Jawa timur dengan catatan beasiswa itu dicabut. Tetapi dirinya masih memikirkan beasiswanya.

Ia akan menunggu kondisi di Palu aman terkendali, sebab dirinya juga melihat kemampuan ekonomi keluarga yang terbatas. Tapi untuk saat ini dirinya mendaftar untuk mengikuti sit in (numpang belajar) di kampus yang di tuju demi mengisi waktu kosong.

“Misalkan beasiswa itu bisa diurus pindah, saya memilih pindah, supaya orang tua tidak kepikiran saya jika nantinya kembali ke Palu,” ucapnya lirih. (Zan/Atep/Lim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here