Kaum Sarungan (SANTRI) Perebut Kemerdekaan

Oleh : Ahmad Annur *

OPINI, Lingkarjatim.com – Clifford Geertz Seorang antropolog asal Amerika, dalam bukunya yang berjudul Religion of Java mengatakan bahwasanya ada tiga pembagian penduduk Indonesia, khususnya di Jawa. Dari tiga kaum yang menonjol dalam masyarakat Jawa tersebut yaitu, pertama kaum abangan, kedua kaum priyayi, dan ketiga kaum santri.

Menurutnya, kaum santri digunakan untuk mengacu pada orang muslim yang mengamalkan ajaran agama sesuai dengan syariat Islam. Dan kaum abangan merupakan golongan penduduk jawa muslim yang mempraktekkan islam dalam versi yang lebih sinkretis bila dibandingkan dengan kelompok santri yang ortodoks. Sedangkan kelompok priyayi digunakan sebagai istilah orang yang memiliki tingkat sosial yang lebih tinggi atau sering disebut kaum bangsawan.

Perlu diketahui, bahwasanya sejarah pergerakan kaum santri merupakan salah satu yang terpenting dalam bagian sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Sejak dahulu, kaum santri selalu menjadi lawan pemerintah kolonial. Berbeda dengan kaum abangan yang terkadang bersama Belanda guna mempertahankan kekuasaan, santri selalu menantang penjajahan koloni. Slogan mereka yang terkenal dalam lingkungan pesantren adalah, “Hidup mulia atau mati syahid”. Bagi mereka, tunduk di bawah kekuasaan kolonial membuat hidup menjadi hina, maka sudah sepatutnya menurut mereka melawan kolonial Belanda.

Dalam hal ini, para santri memahami dan menerapkan betul kalimat “Hubbul wathan minal iman”, cinta tanah air adalah sebagian dari iman. Sehingga apapun itu mereka lakukan untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Meski harus mengorbankan nyawa sekalipun, mereka sudah tidak takut mati. “Mati terhormat atau hidup terinjak” prinsipnya.

Ada sedikit kisah menarik perjuangan kaum santri yang bisa kita jadikan pelajaran. Misalkan kisah Bojongkokosan, Sukabumi. Pada saat upaya penjajahan kembali dilakukan oleh Belanda, kaum santri melakukan perlawanan hanya dengan bersenjatakan batu, tombak, dan senjata tradisional lainnya. Namun, ada hal yang kemudian membuat perlawanan kaum santri ini berhasil.

Berkat doa dan strategi yang dijalankan, Allah SWT menurunkan hujan dan kabut di saat rombongan tentara penjajah mencoba menembus kawasan Bojongkokosan. Santri-santri dan ulama yang sudah berkumpul pun mengepung dari bukit-bukit dan menjebak tentara Belanda di suatu lembah. Akhirnya, karena gerak-gerik kaum santri tertutup oleh tebalnya kabut, pasukan Belanda pun dapat diserang secara efektif. Inilah bukti kekuatan kaum santri yang tidak dimiliki kaum penjajah, kedekatannya dengan Rabb Yang Menguasai Semesta Raya menjadi kekuatan diluar batas nalar manusia.

Namun dalam sejarah kemerdekaan indonesia, kiprah santri dan para kiai banyak yang ditutup-tutupi. Hingga banyak generasi muda yang tidak tahu sejarah perjuangan santri yang merebut kemerdekaan indonesia.

Maka dalam hal ini, tepat sekali Presiden Jokowi pada tahun 2015 lalu menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Hal itu dimaksudkan untuk mengenang sejarah dan kiprah santri dalam merebut kemerdekaan yang terinspirasi dari Resolusi jihad.

Pada Resolusi Jihad ini, terlihat bagaimana keseriusan kaum santri dalam menentang penjajahan. Semangat jihad fii sabilillah adalah perekat terkuat di negeri ini, melebihi pembelaan terhadap suku ataupun ikatan lainnya.

Jihad dalam pandangan kaum santri merupakan kewajiban, yang apabila ia meninggal dalam keadaan berjihad menegakkan agama dan membela tanah airnya, ia akan mendapatkan gelar syuhada.

Dari sini sebenarnya sudah jelas, kiprah santri atau kaum yang biasa dengan kaum sarungan dalam merebut kemerdekaan.

*Penulis adalah mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya prodi Pemberdayaan Masyarakat Islam. Saat ini menjabat sebagai Ketua Umum IKAMABA Surabaya

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here