Jika Khofifah Gendeng Emil, Pengamat : Pilgub Jatim Bakal Seru

Mochtar W Utomo pengamat politik dari UTM

SURABAYA, Lingkarjatim.com – Pengamat politik dari Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Mochtar W Oetomo, menyebut Pilgub Jawa Timur 2018 bakal seru dan berkualitas jika Khofifah Indar Parawansa berpasangan dengan Emil Elistyanto Dardak. Ini karena rekrutmen kepemimpinan mampu merepresentasikan kader-kader terbaik di Jatim.

“Ini juga sejalan dengan tugas parpol untuk menyediakan regenerasi kepemimpinan bagi masyarakat. Tentu akan dicatat sebagai sumbangsih parpol terhadap masyarakat,” kata Mochtar, dikonfirmasi, Rabu (25/10).

Namun, kata dia, keinginan masyarakat tersebut seringkali berlawanan dengan keinginan (ego) parpol yang berusaha memenangi kontestasi Pilgub Jatim dengan mudah. Sehingga, Mochtar menganggap wajar jika parpol menghambat calon yang sudah didukung parpol dan bisa menang dengan mudah.

“Misalnya, PDIP berusaha mencegah Emil maju di Pilgub Jatim itu hal yang wajar. Sebab PDIP sudah memutuskan mengusung pasangan Saifullah Yusuf alias Gus Ipul-Abdullah Azwar Anas. Jadi semua bergantung pada Emil, sebab kesempatan seperti ini belum tentu lima tahun lagi datang lagi,” ujarnya.

Menurut Mochtar, Kekuatan pasangan Gus Ipul-Anas akan imbang jika Khofifah berpasangan dengan Emil. Namun, kata dia, faktor penentu kemenangan bukan figur calon, melainkan ‘dalang’ atau king maker di balik pasangan calon.

“Kalau Demokrat jadi ikut mengusung Khofifah-Emil, pasti Soekarwo alias Pakde Karwo, SBY maupun AHY akan ikut turun membantu, sehingga suara wilayah Mataraman relatif aman karena bisa dimenangkan dengan mudah,” katanya.

Sebaliknya, pasangan Gus Ipul-Anas untuk bisa memenangkan kontestasi Pilgub Jatim harus menambah variasi strategi, bukan hanya fokus pada wilayah kultur dengn identitas NU dan kehijauan.

“Juga perlu merambah wilayah-wilayah yang menjadi basis suara nasionalis yang selama ini didominasi PDIP. Nah, Jurkam Gus Ipul-Anas yang bisa menjadi vote getter tinggal pada Tri Rismaharini dan Megawati. Kalau variasi strategi pemenangan tak maksimal, maka bisa berbahaya,” ujarnya. (Mal/Lim)

Leave a Comment