Habibi, Satu-satunya Pengrajin Batik Ecoprint di Madura yang Karyanya Laku ke Mancanegara

Habibi saat menunjukkan hasil karyanya

PAMEKASAN, Lingkarjatim.com – Habibi, adalah satu-satunya pengrajin batik ecoprint di pulau Madura. Selain itu ia juga salah satu tokoh di Dusun Badung Tengah, Desa Larangan Badung, Kecamatan Palengaan, Kabupaten Pamekasan.

Sejauh ini pengrajin batik ecoprint di wilayah madura belum ada, baru ada dan satu-satunya di Pamekasan itupun masih satu pengrajin yakni, Habibi.

“Saya baru memulai memproduksi kurang lebih satu bulan yang lalu dan saya belajar melalui you tube,” ucap Habibi, Kamis (1/8/2019).

Sejauh ini ia mengaku sudah berhasil memproduksi 7 lembar batik dengan ukuran panjang 2 meter dan lebar 40 cm.

“Sistem pemasaran yang saya lakukan selama ini hanya melalui WhatsApp dan alhamdulillah sudah ada yang pesan, salah satunya orang Tuban, Lumajang, Bali dan Malaysia,” ungkap Habibi.

Terkait harga relatif, lanjut Habibi, ada yang 200 – 500 ribu. Bahkan ada yang 1 juta keatas.

“Untuk yang harga 200 – 500 ribu itu kain dasarnya yang biasa, tapi kalau yang harga 1 juta ke atas kain dasarnya lebih bagus seperti kain sutra,” jelasnya.

Awalnya ia memproduksinya sendirian, namun karena sudah mulai banyak pesanan maka Habibi sudah merekrut karyawan.

“Dengan membutuhkan waktu yang lumayan lama sekitar 1 jam lebih proses pembuatannya dan sudah banyak yang pesan, maka dianggap perlu bagi saya untuk ada orang yang membantu dan lagian bisa membantu mengurangi angka pengangguran di Pamekasan ini,” katanya.

Alasan kurang modal, ia merasa kesulitan untuk mengembangkan usaha yang dia geluti bersama rekan-rekan karyawannya itu.

Pantauan lingkarjatim.com, bahan dasar dari batik ecoprint itu yakni memanfaatkan dedaunan dilingkungan sekitar, seperti daun jati, daun pepaya serta daun lainnya.

Setelah daun yang dipilih sudah ada, maka langkah selanjutnya daun tersebut diredam ke air tawas selama kurang lebih 5 menit.

Kemudian daun yang sudah direndam itu di letakkan ke kain yang menjadi dasar dan ditumbuk dengan menggunakan palu kayu hingga linin atau zat warna dari daun itu betul-betul nampak.

Selesai itu, kain yang sudah ada daunnya dan sudah ditumbuk langsung digulung dan dilakukan langkah selanjutnya yakni dikukus selama kurang lebih 1 jam.

Setelah dikukus selama 1 jam, kemudian di cuci ke air yang lumayan banyak dan terakhir dijemur hingga kering.

“Dari masing-masing daun itu berbeda hasil warnanya, ada yang menghasilkan warna ungu seperti daun jati, ada yang menghasikan warna hijau seperti daun pepaya,” pungkasnya. (Rul/Lim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here