Gerakan Memuliakan Ulama

Zainuddin, Ketua PKC PMII Jatim saat silaturahmi ke KH. Mas Mansur Tholha Pengasuh PP. ATTAUHID Sidoresmo Surabaya

Oleh: Zainuddin

OPINI, Lingkarjatim.com – Kemerdekaan Indonesia diraih oleh karena perjuangan tokoh-tokoh penting di masa lalu. Salah satunya yang paling menonjol adalah peran dari ulama.

Ulama tidak hanya memperjuangkan kemerdekaan lewat produksi pemikiran, jauh lebih dari itu juga turun ke jalan dengan angkat senjata melakukan perlawanan terhadap penjajah.

Untuk menyebutkan beberapa tokoh penting, tentang peran dari Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Wahab Chasbullah dan Kiai As’ad Syamsul Arifin dalam perjuangan memperoleh kemerdekaan, dapat dinarasikan bahwa Kiai Hasyim Asy’ari saat masih belajar di Mekkah telah bersumpah untuk memerdekaan negerinya. Hal itu dibuktikan dengan resolusi jihad yang keluar pada 23 oktober 1945 yang menginspirasi akan terjadinya perang besar pada 10 nopember 1945.

Selain itu, Kiai Wahab Chasbullah juga melakukan gerakan penyadaran pentingnya tanah air lewat lagu Syubbanul Wathan. Dalam bait lagunya terdapat bait tentang mencintai tanah air sebagian dari iman.

Sementara Kiai As’ad adalah tokoh yang teguh dalam mempertahankan pancasila. Khittah NU pada 1984 ditempatkan di Situbondo, tidak hanya membahas kembalinya NU sebagai organisasi keagamaan, tetapi juga peneguhan komitmen NU atas pancasila.

Tiga tokoh itu hanya segelintir saja dari ribuan ulama yang gigih memperjuangkan kemerdekaan. Tiga tokoh itu yang dapat ditemukan jejaknya dan dituliskan sejarahnya, diantara ribuan tokoh lain yang tak sempat tertulis sejarahnya.

Apalagi memang dalam ruang sejarah, Mohammad Hatta melakukan langkah yang meminggirkan peran ulama. Dimana kala itu, untuk masuk menjadi tentara diharuskan memiliki pengakuan dari negara berupa ijazah. Sementara para kiai yang telah berjuang di medan perang, sebagian besar tidak mempunya ijazah, sehingga terpinggirkan oleh peraturan baru yang dibuat oleh Muhammad Hatta.

Meski dipinggirkan oleh rezim, para ulama tidak makar dan memberontak terhadap negara. Bahkan demi menjaga keutuhan persatuan, para ulama NU menggelari Soekarno dengan Waliyatul Umri Bissyaukah Ad Dharuri. Gelar seorang pemimpin yang mendapatkan legitimasi dengan situasi darurat.

Proses peminggiran pelan ulama juga terjadi saat di Masyumi. Ulama pesantren dipinggirkan oleh tokoh islam modernis yang basis pengetahuannya dari Barat. Tetapi kecintaan terhadap negara ini melampaui rasa sakit hati yang dialami. Para ulama tetap setia dan mencintai tanah airnya lahir batin.

Manakala PKI ingin melakukan pemberontakan pada 1945, para ulama pula lah yang menjaga keutuhan republik ini.

Kecintaan ulama kepada Indonesia bukan karena keuntungan materiil, tetapi karena tanah air itu sama dengan harga dirinya sebagai manusia Indonesia.

Ruang sejarah dimasa lalu dan peran ulama yang demikian penting ini layak untuk diteladani oleh generasi mendatang. Terutama oleh kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jawa Timur.

Ulama dan tokoh besar lahir di Jawa Timur. Sebagai kader, kita berada ditanah yang di dalamnya terkubur para pahlawan. Di atas tanah para pejuang kemerdekaan.

Tentu sebagai bentuk belajar dan berupaya meneladani dan memuliakan ulama, PKC PMII akan safari terhadap ulama di Jawa Timur yang kami bagi dalam lima zona meliputi, Madura, Tapal Kuda, Matraman, Metropolis dan Pantura.

Bentuk silaturrahim ini dengan mendengarkan cerita, wejangan dan pula meminta doa agar kader kader PMII terus kuat memiliki idealisme dan pula bisa melanjutkan perjuangan para ulama.

Penulis adalah Ketua Umum PKC PMII Jawa Timur

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here