Gelar Kajian Kesantrian, MWC NU Pragaan Teguhkan Kepahlawanan Santri

Sqntri PP Nurul Huda saat mengikuti acara

SUMENEP, Lingkarjatim.com – Sejak diresmikannya Hari Santri Nasional pada tanggal 22 Oktober 2015 lalu, hingga kini banyak Pondok Pesantren dan Pengurus Nahdlatul Ulama (NU) yang melakukan kajian kesantrian ke berbagai pondok pesantren. Salah satu contohnya MWC NU Pragaan Sumenep yang mendatangi PP Nurul Huda, Pakamban Laok, Kecamatan Pragaan, Jumat (5/10/2018).

Diikuti oleh pengurus, guru, santri dan siswa siswi, K. Fatihul Abror Ketua Panitia HSN NU Pragaan sekaligus pengasuh muda pesantren ini mengatakan bahwa Hari Santri merupakan sejarah, monumental dimana peran santri yang puluhan tahun tak mendapat pengakuan, kini ditempatkan di tempat terhormat.

“Resolusi Jihad (22/10/1945) yang dimotori oleh Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asya’ari (Pendiri NU) merupakan pemantik semangat kepahlawanan para santri untuk mempertahankan NKRI dari jajahan sekutu yang mencoba merongrong kembali kemerdekaan bangsa. Kaum santrilah yang bergerak di garda depan,” ujarnya saat memberi sambutan.

Sementara itu, dalam kajian yang dilakukan, Pemateri tunggal MWC NU Pragaan Ust Zubairi Karim banyak menekankan pada identitas santri yang harus menjaga ketaatan pada guru dan kepada negara. Menurutnya, niat santri dari dulu belajar di madrasah dan pesantren tak hanya untuk mendapatkan ilmu tapi juga barokah, sebab ilmu tanpa barokah semakin tidak mendekatkan diri pada Allah.

Lebih lanjut, Menurutnya, Ketaatan kepada guru di pesantren akan melahirkan ketaatan pada pemerintahan pula. Namun bukan berarti kita kehilangan nilai kritik pada pemerintah jika harus menyuarakan kebenaran.

Dakwah menyuarakan kebenaran dan ketidak adilan kepada pemerintah atau menegakkan nahi mungkar pada pelaku maksiat harus dilakukan dengan cara-cara yang ma’ruf, yang menimbulkan efek kesadaran umat, bukan malah melahirkan kemungkaran baru yg berkepanjangan. Itulah model dakwah NU untuk mengutuhkan masyarakat dan NKRI.

“Amar ma’ruf nahi mungkar dalam pandangan NU tetap harus ditempatkan pada 3 (tiga) hal, bilhikmah, walmauidzatil hasanah, baru wajadilhum billati hiya ahsan,” Katanya dengan penuh semangat.

Diujung kajian beliau mengurai rentetan perjuangan santri sejak hari proklamasi 17 Agustus 1945 sampai meletusnya perang besar 10 November 1945.

“Tak akan ada perang besar 10 November mempertahankan kemerdekaan RI, kalau tak ada fatwa jihad K Hasyim Asyari 22 Oktober. Tak ada Fatwa Jihad, mungkin saja saat ini kita tak menikmati kemerdekaan RI. Begitu besarnya peran kiyai dan santri pada NKRI,” Tukasnya sembari meyakinkan peserta kajian. (Lam/Lim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here