Batik Printing Merajalela, Pengrajin Batik Tulis Bangkalan Gusar

Salah satu pengrajin batik di Bangkalan

BANGKALAN, Lingkarjatim.com – Persaingan usaha saat ini semakin ketat. Tak terkecuali persaingan di industri batik. Saat ini industri batik tak hanya digeluti oleh pengrajin batik tulis rumahan saja, namun juga sudah banyak usaha batik berbasis teknologi.

Jika dulu masyarakat hanya bisa mengenakan pakaian batik dari hasil industri batik tulis, kini sudah banyak dijumpai batik yang dihasilkan dari olahan mesin.

Salah satu batik yang industrinya menggunakan mesin adalah batik printing. Beda halnya dengan batik tulis yang benar-benar mengandalkan kemampuan si pembatik, batik printing cukup dengan kemampuan mengoperasikan mesin.

Jelas, manjamurnya industri batik printing membuat pengrajin dan penjual batik tulis resah dan gusar. Pasalnya tak hanya sekedar mengganggu pemasaran batik tulis, namun juga bisa mengancam kelestarian batik tulis.

Bahkan salah satu pengrajin dan penjual batik tulis asal Kabupaten Bangkalan Supik Amin menganggap batik printing bukanlah budaya asli Indonesia tidak seperti batik tulis yang sudah diakui dunia sebagai budaya asli Indonesia.

“Itu (batik printing) tidak bisa dikatakan sebagai batik. Itu hanya motifnya saja yang batik,” ujar wanita yang juga Owner Galeri Tresna Art Bangkalan, Rabu (3/10/2018).

Menurut wanita yang sudah menggeluti usaha batik sejak tahun 1989 itu yang dikatakan batik adalah murni hasil dari olahan tangan pengrajin mulai dari tahap awal sampai dengan tahap akhir.

“Tidak seperti yang kata orang batik printing itu menggunakan mesin,” imbuhnya.

Supik menjelaskan batik tulis yang merupakan budaya asli Indonesia adalah hasil karya seni yang tinggi tidak bisa dibandingkan dengan hasil produk sebuah mesin.

“Sama halnya dengan lukisan, batik adalah karya seni hasil oleh rasa para pengrajinnya,” katanya.

Batik printing lanjutnya adalah produk hasil jiplakan dari batik tulis yang kemudian di produksi secara massal dengan waktu yang singkat.

“Ya wajar jika harganya jauh lebih murah dari batik tulis karena produksinya juga cepat tidak seperti batik tulis,” jelasnya.

Kondisi yang seperti itu dianggap oleh Supik bisa mengancam kelestararian batik tulis yang sudah menjadi budaya asli Indonesia.

“Ini bahaya kalau dibiarkan. Batik tulis bisa tidak diminati lagi nantinya,” ucapnya.

Oleh sebab itu ia menghimbau kepada masyarakat khususnya pecinta batik untuk ikut menjaga dan melestarikan keberadaan batik tulis yang ada di Indonesia.

“Khususnya batik asli Madura. Caranya ya dengan mengenakan batik tulis asli jangan yang hasil jiplakan seperti yang printing itu,” tuturnya.

Sementara itu Kabid Hubungan Industrial Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker) Kabupaten Bangkalan Sri Suhartini mengaku sudah sering menghimbau kepada para penjual batik untuk tidak menyamakan batik tulis asli dengan batik printing.

“Boleh menjual tapi harus dibedakan mana yang batik tulis mana yang printing,” ujarnya.

Ia meminta para pedagang untuk menjelaskan kepada pembeli beda antara batik tulis asli dengan batik printing.

“Jelaskan pada pembeli jangan karena harganya murah lantas membohongi pembeli,” katanya.

Ia sangat menyayangkan kelakuan para pedagang batik yang melakukan berbagai cara demi meraup keuntungan yang banyak, salah satunya dengan membohongi pembeli.

“Ada pedagang nakal meski batik printing dibilang batik tulis kepada pembeli itu tidak boleh,” pungkasnya. (Lim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here