Azwar Anas di Ganti: Puti yang Tak Dirindukan

Oleh : Misdar Mahfudz*

OPINI, Lingkarjatim.com – Tulisan ini hadir karena kegelisahan penulis melihat hura hara dan turbulensi politik Jawa Timur yang kian hari kian memanas dan seakan tak mengenal batas persaudaraan untuk terus dijaga dan dipupuk sebagai modal sosial untuk membangun Jawa Timur damai dan berkeadaban.

Memilih pemimpin yang berpengalaman, berintegritas, jujur dan amanah seakan hanya menjadi nyanyian usang, karena hanya selesai dirapat-rapat para kaum elitis. Abdullah Azwar Anas ketua Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama’ (ISNU) Jatim yang dikenal sangat amanah dalam memimpin Banyuwangi disapu bersih oleh para elite politik, yang selama ini terus menerus bersuara lantang berjuang untuk rakyat, padahal semuanya hanya tipu muslihat untuk mempertahankan kekuasaannya.

Mari renungkan! Kejadian beberapa pekan yang lalu yang menimpa Anas Cawagub Jawa Timur. Memasuki injury time dari pendaftaran terakhir gubernur dan wakil gubernur Jatim, ada rumor bahwa Cawagub Jatim Anas yang akan mendampingi Syaifullah Yusuf (Gus Ipul) pada kontestasi Pilgub 2018 akan mengundurkan diri karena tersandung “kasus” gambar mesra dengan paha wanita yang sebenarnya sampai detik ini sumbernya tidak diketahui darimana. Publik menilai karena tekanan itulah. Maka, dengan sangat terpaksa Anas mengundurkan diri menjadi cawagub mendampingi Gus Ipul.

Publik selama ini menilai bahwa mesranya Anas dengan paha wanita yang ditengarai menjadi penyebab mundurnya Anas dari cawagub Jatim dianggap realitas faktual, karena begitu masifnya media memberitakan Anas dengan paha wanita tersebut. Hingga pada Akhirnya Anas yang dikenal publik sosok yang ramah, elegan, dan egaliter tersebut mengembalikan mandat ke pimpinan PDI Perjuangan.

Kemudian mandat itu, disikapi dengan cara sedih baik oleh ketua umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri termasuk oleh Hasto Kristiyano selaku sekjend, bahkan Hasto tidak malu menangis di depan khalayak yang disaksikan para wartawan. Dan Hasto berjanji akan mengawal dan memberikan dukungan moral untuk mengusut kasus penyebaran fitnah tersebut sampai tuntas, karena dianggap sudah merusak martabat kader partainya, meskipun sampai hari ini pernyataan Hasto sama sekali tak bisa dibuktikan.

Tak lama dari mandat itu diberikan muncullah nama-nama lain yang akan menganggantikan Anas mulai Bambang DH, Said Abdullah, Kanang, Risma. Namun, dibalik itu semua, memang sudah ada nama lain yang sengaja dipersiapkan, dan dicitrakan tokoh nasional meskipun masyarakat Indonesia hanya sebagian orang yang mengenalnya apalagi masyarakat Jawa Timur, yaitu Puti Guntur Soekarno.

Sementara itu, yang menjadi persoalan. Benarkan Anas memundurkan diri karena foto paha wanita dengan dirinya? Pertanyaan ini sangat menarik untuk dikaji dan diketahui oleh publik saat ini utamanya Jawa Timur bahwa sebenarnya mundurnya Anas dari Cawagub Jawa Timur, hanyalah kamuflase elite politik PDI Perjuangan, karena tak ingin mahkota partainya dimiliki oleh orang lain.

Meneruskan Trah Soekarno

PDI Perjuangan hendak mencari sosok yang akan meneruskan perjuangan trah Soekarno. Kenapa bukan Puan Maharani? Jawabannya sangat jelas, karena Puan Maharani sudah dikenal banyak orang take rekord di pemerintahan Jokowi-JK selama ini sangat tidak baik bahkan prestasi dari tahun ketahun menurun. Oleh karena itu, tidak salah bagi Megawati untuk melakukan terobosan baru, dipilihlah Puti yang tak banyak dikenal publik terutama Jawa Timur. Meskpun harus merekayasa dulu menggantikan Anas untuk memuluskan manuver politiknya agar tak dibenci oleh masyarakat pun agar terlihat elegan dan bijaksana.

Menyikapi ihwal tersebut, inilah yang dinyatakan oleh Erving Goffman (Ritzer, 2012) dalam teori dramaturgi, sebagai panggung sendiwara politik, dimana perilaku elite politik ketika berada diatas panggung (front stage) dan berada di belakang panggung (back stage) selalu menampilkan yang berbeda, kalau di publik mencitrakan hal-hal yang positif, elegan, dan bijaksana. Sedangkan dibelakang publik penuh intrik untuk mengelabui publik. Berpijak dari teoriti Gaffman ini. Menurut hemat saya, langkah Megawati sebagai pimpinan PDI Perjuangan, dan kroni-kroninya, atas kasus Anas, merupakan by design agar mahkota partainya tetap jatuh pada trah Soekarno.

Puti Tak dirindukan

Puti meskipun dicitrakan cucu Soekarno bagi masyarakat Jawa Timur sama sekali kehadirannya sangat tidak dirindukan, apalagi Puti sudah dianggap sebagai “boneka” partai untuk meneruskan trah Soekarno. Puti tidak dirindukan oleh masyarakat Jawa Timur karena banyak faktor:

Pertama, Puti tidak pernah memiliki pengalaman hidup di Jawa Timur terutama di pemerintahan, ia juga bukan mantan/kelapa daerah di Jatim tidak seperti Anas atau Emil yang sekarang mendampingi Khofifah, persolan Jawa Timur cukup kompleks. Maka, tak pelak bila warga Jawa Timur membutuhkan orang asli Jawa Timur yang tahu betul persoalan Jawa Timur secara konkret.

Kedua, Puti selama ini juga tidak dikenal memiliki prestasi yang baik meskipun pernah menjadi DPR RI Dapil Jawa Barat ia hanya menjadi DPR seperti pejabat pada umumnya yang hanya ngantor dan melaksanakan tugas tanpa ada program unggulan yang bisa dibanggakan kepada publik. Maka, bila ia dipaksakan maju menjadi wakil gubernur Jawa Timur bukan tidak mungkin ia hanya menjadi benalu bagi kemajuan Jawa Timur.

Ketiga, Puti sudah menggantikan posisi putra daerah Jawa Timur yang sudah teruji menjadi kepala daerah di Jawa Timur tepatnya di Kabupaten Banyuwagi yaitu Abdullah Azwar Anas. Anas dikenal sosok yang sudah mampu merubah wajah kota santet menjadi kota wisata dan yang tidak kalah pentingnya Anas juga mampu menekan angka kemiskinan di kabupaten Banyuwangi, bahkan beberapa hari yang lalu Anas mendapat penghargaan tertinggi bidang pariwisata tingkat Asia Tenggara, yaitu ASEAN Tourism Standard Award (Jawa Pos, 29/1).

Begitu pun juga, Anas bagi masyarakat Jawa Timur sungguh sangat dirindukan, pergantian Anas kepada Puti apalagi hanya persoalan pragmatis tentunya sangat membuat masyarakat Jatim marah dan terpukul karena membuat pilgub Jawa Timur tak lagi berkualitas.

Namun, apa daya masyarakat tidak punya kekuatan, yang punya kekuatan adalah partai politik dalam konteks ini adalah PDI Perjuangan, partai yang berkuasa saat ini. Partai ini rupanya tidak ingin mahkota partainya jatuh pada orang lain, apalagi kepada Anas yang dikenal sosok yang tak haus kekuasaan dan tak suka diatur bila hanya untuk kepentingan partai an sich dan merugikan masyarakat umum.

Kasus yang menimpa pada Anas hanyalah rekaya internal partai penguasa saat ini yang tujuannya tiada lain untuk melanggengkan status quo. Maka, tidak bisa disalahkan jika belakangan ini banyak masyarakat mengatakan kecewa dan sangat tidak menginginkan Puti maju menjadi wakil gubernur Jawa Timur, karena kehadirannya hanyalah membuat pilgub Jawa Timur tak lagi berkualitas tidak seperti semula Gus Ipul-Anas, Khofifah-Emil yang sama-sama asli Jawa Timur dan mengetahui akar persoalan yang ada di Jawa Timur.

Maka, sekali-lagi jika kebiasaan partai seperti ini tentunya akan sangat sulit mewujudkan demokrasi subtantif; memberi tempat kepada seluruh lapisan masyarakat mulai dari rakyat jelata, kaum miskin, perempuan, kaum muda, golongan minoritas keagamaan dan etnik, untuk dapat benar-benar menempatkan kepentingannya dalam agenda politik bukan kepentingan partai yang menjadi prioritas seperti yang terjadi pada PDI Perjuangan saat ini.

Puti Guntur Soekarno yang mendampingi Gus Ipul saat ini, dibranding bagaimanapun menurut hemat saya akan tetap tidak memiliki nilai tawar yang signifikan dan kehadirannya pun tak dirindukan oleh masyarakat Jawa Timur.

*Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi FISIP Universitas Airlangga, Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here