Air Mata di Balik Sepak Bola

 

Oleh : Yoyok Amirudin

OPINI, Lingkarjatim.com – Jutaan air mata menetes dibumi pancasila wabil khusus LA mania (julukan suporter Persela) mengiringi kepergian kiper Persela Chairul Huda. Kiper yang dikenal dengan keberaniannya menghalau bola-bola atas dan bola bawah itu tidak akan nampak lagi di layar kaca. Siapa sangka pertandingan yang di gelar di Stadion Surajaya Lamongan itu permainan yang terakhir bagi Chairul Huda setelah mengabdi sejak 1999. Kiper senior itu menggantungkan sepatunya untuk menghadap ke Ilahi Robi.
Penulis ingin mengambil hikmah dari kisah kematian kiper Persela Chairul Huda, diantranya adalah:
Pertama, totalitas. Dalam dunia kerja siapapun dituntut untuk totalitas. Bondo, bahu, pikir, lek perlu sak nyawane (harta, tenaga, pikiran kalau perlu nyawa). Segala yang dipunyai dikeluarkan demi kejayaan sebuah lembaga. Kita lihat Chairul Huda tampil ekspresif, berani menghentikan pemain Ramon Rodrigues walaupun resikonya adalah kematian. Chairul Huda tampil maksimal bukan karena harta melainkan demi nama baik Lamongan yang sejak lama dibelanya. Berbeda sama orang yang bekerja demi sebuah jabatan atau uang. Totalitasnya perlu dipertanyakan. Totalitas menjadi harga mati bagi siapapun yang sedang bekerja. Karena pimpinan pada umumnya suka sama bawahan yang bekerja dengan totalitas.

Kedua, kematian. Kita percaya seyakin-yakinnya bahwa semua manusia akan menghadap kepada sang Khalik. Menghadap disini bukan diartikan menghadap untuk sholat lima waktu melainkan menghadap diartikan meninggal dunia. Tidak ada yang kekal kehidupan di dunia ini kecuali Allah SWT. Kematian itu tidak mengenal usia, kecil, muda, dewasa, tua. Kematian pun bisa terjadi kapan pun dan di mana saja. Sesuai firman Allah Surat Al A’rof: 34, wa likullli ummatin ajalun, faidza jaa ajaluhum laa yasta’khiruna saa’atau wa laa yastaqdimun (Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu, maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat, dan tidak dapat memajukkannya). Masih ingat di benak kita pemain sepakbola lainnya yang meninggal di atas rumput hijau, Eri Erianto gelandang Persebaya, Jumadi Abdi pemain PKT bontang, dan Akli fairuz pemain Persiraja. Bukan impian mereka untuk mengakhiri hidupnya, tapi takdir berkata lain. Meninggal ketika beraktifitas di luar lapangan, banyak!. Lihat saja kemarin yang sempat menjadi viral Abah Ja’far seorang Qori’ ternama asal Surabaya, meninggal ketika melantunkan ayat-ayat suci Al Quran dihadapan Ibu Menteri Sosial Khofifah Indah Parawansa.
Ketiga, Empati. Ribuan LA mania ketika mendengar kabar meninggalnya kiper kesayangannya larut dalam haru dan isak tangis tak bisa di tahan. Hal ini mengingatkan akan kematian seorang pahlawan, merasa ditinggalkan dan merasa telah kehilangan idolanya. Ingin seperti itu maka berbuatlah baik ketika di dunia. Niscaya kanan-kirimu merasa kehilangan.
Keempat, Istiqomah. Chairul Huda gabung bermain dengan Persela sejak 1999 sampai 2017. Delapan belas tahun pantas dianggap pemain senior. Walaupun banyak klub yang ingin meminangnya, Huda tetap istiqomah bermain di Persela. Artinya apa? Bekerjalah dengan keras, kerja ikhlas, kerja cerdas dan kerja tuntas. Dan satu lagi yang jarang dimiliki orang adalah ke-istiqomah-an. Istiqomah bisa diterapkan diberbagai sektor, keluarga, pekerjaan, dan ibadah.
Semoga amal ibadah Chairul Huda diterima di sisi Allah, diampuni segala dosanya dan diberi kesabaran untuk keluarga yang ditinggalkannya. Amin

Penulis adalah Pecinta Bola Liga Indonesia
Tinggal Di Surabaya

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here