Proyek Pembangunan Kayutangan Heritage Malang Habiskan Anggaran 23M

Oleh : Dwi Nur Fitriah*

KELAKAR, Lingkarjatim.com – Kawasan Kayutangan yang dikenal sebagai Jalan Basuki Rachmad saat ini tengah dibangun jalanan yang akan menyerupai Jalan Malioboro di Yogyakarta ataupun Jalan Braga di bandung dengan menggunakan Dana Alokasi Khusus (DAK) dari pemerintah pusat sekitar Rp23 Milyar.

Kawasan Kayutangan sendiri merupakan pusat perdagangan dan pertokoan pada masa Hindia Belanda, sehingga terdapat berderet bangunan tua yang memiliki nilai budaya yang tinggi. Hingga saat ini, kawasan Kayutangan merupakan pusat perkantoran dan pertokoan. Namun, tidak seperti pada masa lalu yang menjadi pusat ekonomi.

Dengan dibangunnya jalanan tersebut, Pemkot Malang berharap kawasan wisata Kayutangan Heritage mampu menyedot perhatian para wisatawan agar berkunjung ke Kota Malang dan mengembalikan pusat ekonomi yang dulunya berada di kawasan Kayutangan tersebut. Pemerintah merencanakan akan menata sejumlah sudut di kawasan Kayutangan sekaligus melestarikan cagar budayanya. Sejumlah fasilitas penunjang juga akan dibangun untuk mendukung konsep wisata heritage tersebut, seperti menambahkan taman-taman dan ruang khusus bagi penyandang difabel.

Baca Juga :  Melindungi Anak Indonesia

Tetapi permasalahan yang timbul di sini ialah banyak warganet yang menghujat proyek pembangunan kawasan Kayutangan Heritage tersebut. Lantaran hal ini dipicu pada hari senin (21/12/2020) ruas Kayutangan Heritage resmi dibuka, sebelumnya kawasan Jalan Basuki Rachmad tersebut ditutup sekitar 2 bulanan. Warganet yang menghujat tersebut kesal lantaran sekitar 2 bulan jalan tersebut ditutup, yang berubah hanya dari jalan aspal ke batuan endesit.

Banyak yang berasumsi bahwa pembukaan ruas jalan tersebut merupakan peresmian bahwa Kayutangan Heritage tersebut telah rampung, namun nyatanya belum. Bukti ini didasari dengan klarifikasi yang dilakukan Wali Kota, Sutiaji dengan mengatakan bahwa pembangunan dan perkembagan tersebut akan selesai pada Agustus 2021.

Namun, Pemkot Malang dalam melakukan pembangunan jalan tersebut dirasa kurang efektif. Karena selama tahap pengerjaannya memakan waktu sekitar 2 bulan dan memberikan dampak kepada masyarakat yang harus melewati jalan lain yang lebih jauh dan memakan waktu dan bahan bakar yang cukup banyak serta pedagang di sekitar lokasi yang mengalami penurunan omset. Dan juga pada saat hujan turun, kawasan Kayutangan yang biasanya tidak pernah banjir sekarang menjadi banjir.

Baca Juga :  Etika Bersosmed

Sebaiknya yang dilakukan Pemkot malang dalam mengerjakan pembangunan tersebut dilakukan dengan sistem buka tutup jalan. Dan bisa meniru dari kota-kota lain yang telah berhasil dalam melakukan pengerjaan pembangunan tersebut, dengan cara melakukan pengerjaan pembangunan tersebut pada saat malam hari. Karena pada waktu malam hari, waktu yang dirasa tepat karena aktifitas yang dilakukan tidak sepadat pada saat pagi,siang maupun sore hari. Dan juga lebih memperhitungan konstruksi jalan agar tidak terjadi banjir pada saat hujan turun.

Terlepas dari itu semua, Pemkot Malang sudah melakukan usaha yang terbaik agar membuat Kota Malang menjadi kota wisata yang banyak dikunjugi oleh wisatawan. Guna menaikan roda perekonomian Kota Malang dan masyarat sekitar.

*Penulis adalah Mahasiswi Jurusan Akuntansi, Universitah Muhammaddiyah Malang

Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here