City Branding Bangkalan yang Tidak Jelas

Oleh : Moh. Samsul Arifin*

KELAKAR, Lingkarjatim.com – Dimanapun kita melihat Monas, pasti yang terlintas pertama di pikiran kita ialah ibu kota Indonesia, dimanapun kita melihat gambar tugu pahlawan, pasti langsung teringat Surabaya, saat membaca tulisan Paris van Java, pasti teringat kota Bandung, serta kota kota lain di Indonesia bahkan kota-kota besar di dunia. Ya, itu semua adalah contoh dan implementasi dari City Branding yang sukses dilakukan pemerintah kota dalam usahanya memperkenalkan kotanya pada masyarakat bahkan pada dunia.

Namun sangat berbeda saat anda memasuki kota Bangkalan, setelah Jembatan Suramadu sebelum memutar ke kiri menuju kota ini (pertigaan Tangkel), bukan tugu kebanggaan, patung dan tanda lain yang mewakili pangeran Trunojoyo sebagai pahlawan rakyat Madura, bukan (misalnya) ikon Syaichona Cholil Bangkalan atau apapun yang mewakili ciri khas kota paling barat Madura ini. Justru, anda akan disambut oleh sebuah mobil bekas kecelakaan, dipajang dengan posisi yang amat tinggi layaknya seperti sebuah kebanggaan, kendaraan penyok bekas tragedi maut itu juga dicat seperti merah darah segar yang baru saja muncrat dan mengalir dari segala arah, mengerikan sekali.

Tiap kota di Indonesia bahkan di dunia, secara proaktif membangun dirinya dengan branding-branding yang baik, brand tidak bisa membangun dirinya sendiri tanpa adanya instrument dan aktivitas yang mendukung pertumbuhannya. Kota-kota di Indonesia pun berlomba-lomba membuat branding yang menarik. Branding untuk memperkuat citra sebuah kota. Biasanya tema branding diambil dari keistimewaan kota itu sendiri. Dalam menentukan branding apa yang melekat di sebuah kota, biasanya memerlukan kajian secara ilmiah terkait potensi apa yang ada di kota tersebut. Misalnya potensi pariwisata, industri, pendidikan, sejarah dan lain-lain.

Aceh di kenal dengan sebutan serambi mekah, Banyuwangi sunrise of java, Malang Kota Wisata, dan Surabaya Kota Pahlawan, Yogyakarta kota pendidikan, serta contoh  kota lainnya. Selain meningkatkan popularitas, City Branding juga mampu mengabadikan peninggalan sejarah yang sudah mulai terlupakan.

Di Bangkalan sendiri, beberapa tahun terakhir sebenarnya mulai mengkampanyekan dirinya sebagai kota Dzikir dan Shalawat. Benar-benar diksi yang sangat tepat guna merepresentasikan religiusitas yang tinggi di kota ini. Lalu pertanyaannya kenapa branding ini tidak dilanjutkan dengan instrument lain yang mendukung, Makam (Pasarean) agung Syaichona Moh.Cholil seharusnya didukung lagi dengan tata kota, ikon, lambang dan kegiatan yang menguatkan branding “Kota Dzikir dan Shalawat”.

Untuk masalah tugu di pintu kota Bangkalan dari Suramadu, saya berspekulasi, pemerintah kota ingin memberikan peringatan bagi para pengendara, bahwa mematuhi rambu lalu lintas itu sangat penting, dan sebagai akibat dari pelanggaran itu bisa saja terjadi seperti mobil yang dipajang itu. Kecelakaan maut dan musibah di jalan raya  lainnya bisa dihindari dengan membuat peringatan seperti itu. Tapi akibatnya, kesan seram justru yang akan terngiang di benak siapapun yang memasuki kota ini.

Sebuah PR serius dihadapi pemkab Bangkalan, terutama dinas pariwisata dan dinas lain yang berhubungan langsung dengan masalah ini. Saya sebagai warga Bangkalan, tidak ingin menyambut teman dari luar kota dengan simbol-simbol yang membuat mereka ‘takut’ dan tertanam kesan negatif di benak mereka gegara ini semua.

*Penulis adalah akademisi STIT Al-Ibrohimy Bangkalan, pegiat ilmu komunikasi

Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here